background img

WASPADA PENIPUAN PENJUALAN TABUNG OKSIGEN ONLINE

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Masih tingginya kasus Covid-19 saat ini diiringi dengan banyaknya masyarakat yang memburu tabung oksigen.

Kondisi itu rupanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mengambil kesempatan agar bisa mengelabuhi korban dan tentunya dengan cara mengambil uang mereka. Modusnya penjualan tabung oksigen melalui online.
Belum lama ini, kasus penipuan itu pun telah menimpa seorang warga Kota Balikpapan yang mengalami kerugian mencapai jutaan rupiah setelah memesan tabung oksigen melalui online.
Adanya hal itu, Kasat Reskrim Polresta Balikpapan Kompol Rengga Puspo Saputro mengimbau kepada masyarakat untuk membeli tabung oksigen langsung di toko resmi atau distributor.
“Kita imbau masyarakat kalau beli oksigen di toko resmi atau distributor oksigen. Karena di Kaltim sendiri untuk kebutuhannya itu tercukupi. Ada dua distributor besar, pabrik untuk memenuhi kebutuhan seluruh Kaltim,” kata Rengga, Kamis (29/7).
Untuk itu masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan oksigen dan tidak tergiur dengan penawaran online, sebab tak bisa dipastikan penjualnya.
“Karena pembelian lewat online itu sering masuk laporan di sini (Polresta). Dan rata-rata profiling penjual di online itu fiktif,” sebutnya.
Perihal kasus seorang warga yang tertipu jual beli tabung oksigen online itu, pihaknya mengaku hingga saat ini belum menerima laporan dari masyarakat. “Belum ada laporan yang masuk,” ucapnya.

KISAH KORBAN
Paulus (40), warga MT Haryono, Balikpapan Selatan (Balsel) menjadi korban dari jual beli tabung oksigen online tersebut.
Akibatnya ia kehilangan uang sebesar Rp 4,3 juta. Uang itu digunakan Paulus untuk membeli dua tabung oksigen dari salah satu marketplace.
Melalui sambungan seluler, Paulus menceritakan kronologis kejadian. Bermula saat Paulus membeli oksigen untuk temannya yang tengah menjalani isolasi mandiri setelah terpapar Covid-19 pada Kamis, 22 Juli 2021 lalu.
“Teman saya itu banyak yang sedang isolasi mandiri, saya mau belikan oksigen untuk antisipasi saja kalau sewatu-waktu dibutuhkan. Akhirnya saya searching yang menjual,” cerita Paulus.
Hasil penelusurannya di beberapa marketplace, Paulus menemukan toko-toko yang kebanyakan dari luar Kota Balikpapan. Itu pun sudah lama tidak melakukan transaksi.
Namun, Paulus tidak putus asa. Ia terus mencari di marketplace lainnya dan menemukan satu toko penjualan oksigen yang berlokasi di Balikpapan. Hanya saja, alamat pastinya tidak tertera.
Paulus kemudian menanyakan ketersediaan oksigen pada toko tersebut. Dan ia diberikan nomor handphone untuk transaksi lebih lanjut. Obrolan pun berlanjut di WhatsApp.
“Kita chat lewat WhatsApp. Saya tanya, ada enggak yang 1,5 kubik? Dia balas dengan voice not, kedengaran suaranya. Dia bilang enggak ada yang 1,5 kubik, cuma yang satu kubik. Harganya Rp 2.150.000, dan saya pesan dua kubik total Rp 4,3 juta,” terang Paulus.
Sang penjual selanjutnya meminta alamat dan nama Paulus untuk pembuatan invoice. Sampai di sini Paulus belum menyadari jika dirinya sudah tertipu.
“Dia buatkan invoice, tagihan. Jadi sangat meyakinkan, enggak curiga. Tertera juga akun BRI lengkap dengan namanya. Pengakuannya dari distributor di Balikpapan, mau ngantar ke Samarinda jadi sekalian kalau saya pesan mau drop di rumah saya,” ungkapnya.
Karena sangat meyakinkan, Paulus pun langsung melakukan pembayaran via transfer pada hari yang sama sekira pukul 12.00 Wita. Usai pembayaran, Paulus disuruh menunggu kedatangan barang di rumah.
Namun, hingga waktu sore tabung oksigen yang ia pesan tak kunjung datang. Paulus belum juga curiga. Ia memilih untuk menunggu lagi hingga hari esoknya, Jumat (23/7).
“Dan besoknya tabung enggak datang juga. Saya coba telepon nomornya tapi tidak aktif. Saya cek lagi di marketplace, tertulis bahwa akunnya enggak boleh kontak dengan orang ini. Berarti dia buka akun satu hari saja, dan sudah banyak korban makanya banyak yang report,” ucapnya.
Barulah Paulus sudah sadar jika dirinya tertipu. Ia mencoba menghubungi pihak bank yang digunakan pelaku untuk penjualan. Setelah dicek pada nomor rekening milik pelaku, rupanya saldo yang tersisa hanya Rp 50 ribu.
“Artinya sudah ditarik uangnya. Orangnya juga sudah tahu kalau bakal dibekukan rekeningnya,” akunya.
Ditanya apakah sudah melaporkan kejadian ke pihak berwajib, Paulus mengaku sejauh ini belum membuat laporan. Ia memilih untuk menjadikan pelajaran dari kejadian tersebut.
“Uang di rekening itu juga sisa Rp 50 ribu, enggak bisa dikembalikan. Makanya saya enggak ngelapor. Uang enggak bakal kembali. Jadi pelajaran buat saya. Semoga tidak ada lagi yang mengalami hal serupa. Untuk warga lain, minimal COD kalau mau beli barang. Jangan transfer,” pungkasnya.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *