background img

UTANG PIUTANG DALAM ISLAM

1 week ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Utang piutang menjadi kegiatan yang lumrah dan sulit dihindarkan dalam kehidupan ini atas dasar berbagai faktor penyebab. Tentu orang yang berhutang wajib melunasi utangnya.

Namun bagaimana jika orang meninggal dunia, tetapi belum melunasi hutangnya, siapa yang menanggung hutang itu sesuai hukum Islam?

“Orang yang baru meninggal itu belum tentu rohnya diterima oleh langit dan bumi. Lalu bagaimana supaya rumahnya bisa diterima oleh langit dan bumi maka Rasulullah SAW menekankan terkait hutang piutang,” kata Ustadz Suherman dalam program Sajadah Jumat yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim di Radio KPFM Balikpapan, Jumat (8/10).

Dalam hadis riwayat Imam Al Bukhari, yang bersumber langsung dari sahabat Rasulullah SAW yakni Annas Ibnu Malik RA, beliau pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW terkait seseorang yang manakala telah diletakkan di alam kuburnya, yang mana sahabatnya satu persatu yang ikut dalam proses pemakamannya, baik dari kalangan keluarga baik dari kalangan sahabat, dari kalangan tokoh masyarakat. Satu persatu kemudian meninggalkanya, jenazah yang sudah di liang kubur tersebut.

Dari situ jenazah yang sudah di dalam lubang kubur tersebut masih mendengarkan suara sandal orang-orang yang meninggalkan kuburnya.

Dari cerita itu kita bisa ambil bahwa yang tertanam itu bukanlah jasadnya, bahwa asal muasal kita itu tidak lain adalah roh.

Sebelum beliau mensalatkan beliau biasanya bertanya dulu siapanya akan menanggung utang piutangnya nanti. Dan ada suatu saat tidak ada yang menjawab, kemudian Rasulullah keluar, kemudian menyampaikan pada sahabatnya bahwa kalian saja yang mensalatkan.

Kemudian para sahabatnya bertanya kepada Rasulullah, kenapa beliau tidak mensalatkannya? Beliau menjawab selama tidak ada kejelasan yang menanggung hutangnya beliau tidak mau menyalatkannya. Dan pada saat itu akhirnya ada salah satu sahabat yang mau menanggung hutang piutang jenazah yang meninggal, baru Rasulullah mau menyalatkannya.

Kemudian yang sebelum mensalatkan, Rasulullah mengatakan, “Jika umatku meninggal dunia kemudian meninggalkan hutang-hutangnya, maka sayalah yang kemudian akan menanggungnya.” Tapi sebenarnya tidak seperti itu. Hal ini membuktikan kecintaan Rasulullah kepada umatnya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *