background img

TREATMENT COVID PERLU DITINGKATKAN

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Kasus Covid-19 di Kota Balikpapan masih sangat tinggi. Setiap harinya penambahan kasus positif baru rata-rata pada angka ratusan.

Oleh karena itu, masyarakat tetap harus disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19. Seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hingga menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Selain itu, Satgas juga meminta masyarakat turut membantu upaya mencegah laju penularan dengan mendukung strategi 3T, seperti pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracking), dan perawatan (treatment).

Juru Bicara (Jubir) Satgas Penangan Covid-19 Kota Balikpapan Andi Sri Juliarty mengatakan, sejauh ini pihaknya tidak menemukan kendala dalam hal 3T.
Untuk testing misalnya, wanita yang akrab disapa Dio itu mengklaim jika di Balikpapan cukup tinggi. Bahkan melebihi standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Balikpapan itu tinggi testingnya. Jadi kita dalam satu minggu bisa mencapai 13 ribuan testing, baik dari antigen maupun PCR. Kita malah lebih tinggi dari standar WHO satu per seribu penduduk, di Balikpapan bisa tujuh per seribu penduduk,” kata Dio, Kamis (29/7) kemarin.

Tingginya angka testing tersebut, lanjut Dio, dikarenakan jumlah laboratorium pemeriksaan cukup banyak di Kota Balikpapan. Dan semuanya hampir penuh.

“Mereka juga mau membayar mandiri. Selain itu juga banyak dukungan dari perusahaan. Artinya masyarakat tidak takut untuk periksa,” ungkap Dio.
Ketika testing tinggi, tentunya berpengaruh pada tracking. Sebab, jika ditemukan kasus positif saat testing, maka langsung dilakukan tracking. Utamanya dilakukan oleh puskesmas.

“Bahkan puskesmas memiliki tenaga yang memang direkrut khusus untuk tenaga tracking. Mereka di lapangan bekerjasama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dibantu Satgas PPKM Mikro,” tuturnya.

Hanya saja yang masih perlu ditingkatkan adalah treatmentnya. Sebab, meski pemerintah telah menyediakan banyak tempat untuk isolasi, tidak semua masyarakat mau ikut. Mereka lebih memilih untuk isolasi mandiri di rumahnya.

“Mereka mau di rumahnya sendiri. Padahal di rumah belum tentu disiplin. Belum tentu aman. Akhirnya berisiko untuk menularkan ke yang lain, dan akan lebih lambat pemutusan kasusnya,” ucap Dio.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *