background img

TINGKATKAN PENGAWASAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN BERBASIS AGAMA

3 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Sejumlah kasus kekerasan seksual di lingkungan satuan pendidikan berbasis agama terungkap di Kota Balikpapan belum lama ini.

Dikhawatirkan akan terus terjadi. Peningkatan pengawasan dan pembinaan pada semua lembaga pendidikan itu sangat penting dilakukan. Sebagai langkah antisipasi.

“Kami akan meningkatkan pengawasan, juga melakukan pembinaan,” kata Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan Johan Marpaung ketika diwawancarai di Pemkot Balikpapan, Kamis (10/2).

Seperti diketahui, 3 Februari 2022 lalu Polda Kaltim mengamankan seorang tokoh agama berinisial RM (54). Ia diduga melakukan pelecehan seksual kepada dua santriwatinya yang masih berusia 11 dan 15 tahun.

Polisi menjerat RM dengan Pasal 76 E Juncto 82 ayat 1, 2, dan 4 UU RI Nomor 17 Tahun 2016, pengganti Peraturan Pemerintah UU Nomor 1 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Masih di tahun 2022. Tepatnya pertengahan Januari lalu, Polda Kaltim juga menetapkan MS, oknum pendidik di salah satu pondok pesantren di Balikpapan Utara sebagai tersangka kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati.

Johan Marpaung mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Dia berharap menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Baik itu para pendidik, hingga yang bertanggung jawab pada lembaga pendidikan.

“Tentunya kita prihatin dalam kondisi seperti ini, dan menjadi perhatian bagi semua. Baik itu bagi para pendidik, juga yang bertanggung jawab langsung pada lembaga. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga,” ungkapnya.

Ditanya soal ponpes dan rumah tahfidz yang tidak berizin di Kota Balikpapan, Johan Marpaung menyebut sejauh ini pihak belum menemukan adanya kasus ponpes dan rumah tahfidz tak berizin tersebut. “Nanti coba kami lihat lagi. Sejauh ini banyak yang berizin,” ucapnya.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published.