background img

SOAL PDAM, PEMKOT TUNGGU BPKP

1 year ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan hingga saat ini masih menunggu hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terkait masalah lonjakan tarif iuran pelanggan PDAM selama pandemi Covid-19.

“Kita tunggu dari BPKP bagaimana keputusannya yang akan kombinasikan dengan hasil keluhan pelanggan. Bagaimana nanti hasilnya kita akan ditindaklanjuti segera,” katanya ketika diwawancarai wartawan, Kamis (16/7).Menurutnya, hasil pemeriksaan dari BPKP terhadap keluhan dari sejumlah pelanggan PDAM terkait lonjakan tarif iuran yang harus dibayar selama masa pandemi Covid-19 sudah mendekati hasil final atau akhir.

“Tim dari BPKP sudah turun, katanya sudah hampir selesai. Tapi saya belum mendapat hasil laporan, kita tunggu saja,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Balikpapan bersama dengan PDAM telah berkoordinasi untuk mempersiapkan langkah selanjutnya apabila nanti hasil dari pemeriksaan BPKP menunjukkan adanya kelebihan bayar dari iuran pelanggan.

Ada dua opsi yang sudah disiapkan, yakni mengembalikan dana kelebihan yang sudah dibayar oleh pelanggan PDAM atau menjadi dana kelebihan yang sudah terlanjur dibayar sebagai kredit untuk pembayaran di bulan berikutnya.

Dari catatan sementara, sedikitnya 16,5 persen dari 104 ribu pelanggan PDAM mengalami kelebihan tagihan. Dari jumlah itu kelebihan bayar pelanggan PDAM nominalnya mencapai Rp 5 miliar.”Kalau memang hasilnya ternyata ada kelebihannya, kita akan kembalikan. Bisa kita kembalikan atau bisa jadi kompensasi untuk pembayaran yang akan datang,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa masyarakat selaku pelanggan seharusnya bisa memahami kondisi yang terjadi selama pandemi Covid-19 yang membuat petugas pencatatan meter air pelanggan PDAM tidak turun ke lapangan, sehingga hanya mengambil perhitungan dari pemakaian rata-rata pelanggan.

Sehingga menyebabkan pembayaran pada bulan berikutnya menjadi lebih tinggi, karena terjadi akumulasi pembayaran selama masa pandemi Covid-19.Rizal mengharapkan agar masyarakat bisa memahami apa yang terjadi karena tempo hari.

“Memang sebagian besar masih ada yang direvisi, tapi sebagian besar saya kira sudah memahami apa yang terjadi. Karena memang tempo hari perhitungannya dikira-kira saja, tapi pada umumnya pemakaiannya lebih besar dari pemakaian rata-rata. Tapi memang ada juga yang lebih rendah pemakaiannya, yang kemudian menjadi akumulasi selama 3 bulan. Jadi terasa lebih besar,” pungkasnya.(MAULANA/ KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *