background img

PASIEN POSITIF BISA ISOLASI MANDIRI

1 year ago written by

 

KPFM BALIKPAPAN – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah merevisi beberapa istilah dalam definisi operasional penanganan Covid-19.
Seperti Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG) dan Kasus Konfirmasi.

Istilah tersebut kini diubah menjadi kasus suspek, kasus probable, kemudian definisi kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi dan kematian.
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi membenarkan hal tersebut. Ia menyebut jika pihaknya dalam beberapa hari ini tengah menyesuaikan Permenkes Nomor 413.

“Kita akan menyesuaikan Permenkes yang baru 413. Banyak terjadi perubahan istilah dalam kasus Corona. Seperti pasien terkonfirmasi positif hanya disebut terkonfirmasi. Kemudian PDP, ODP dan OTG juga hilang. Yang PDP masuk dalam kelompok pasien suspek, kemudian ada juga istilah probable,” kata Rizal, Rabu (15/7).

Perubahan yang sangat signifikan, lanjut Rizal, nantinya pasien yang dirawat atau yang isolasi di rumah sakit hanya pasien yang terkonfirmasi positif dalam kondisi berat.
“Ini perubahan yang paling signifikan. Jadi, yang dirawat hanya pasien yang terkonfirmasi dalam kondisi berat. Sementara yang lainnya diminta isolasi mandiri di rumah,” ujar Rizal.

Hal tersebut juga diperjelas oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Andi Sri Juliarty. Ia menyebut, sesuai Permenkes 314 pasien positif bisa isolasi mandiri di rumah. Artinya, yang dirawat atau yang isolasi di rumah sakit hanya pasien dengan kategori berat.

“Tapi kita melihat kondisi fisik yang bersangkutan. Tidak bisa langsung isolasi mandiri. Jika memang gejalanya ringan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Kemudian kita mempertimbangkan kondisi rumah. Kalau ada lansia atau dalam rumah ada anggota keluarga dengan penyakit komorbid, maka kita mempertimbangkan untuk isolasi mandirinya di wisma Pemkot,” jelasnya.

Ia menambahkan, hal ini juga mengikuti keputusan dari WHO. Bahwa kasus yang terkonfirmasi positif atau diagnosis pertama PCR positif, jika ringan maka bisa isolasi mandiri di rumah.
“Jika berat dirawat. Kalau dirawat pun pemeriksaan kontrolnya atau evaluasinya hanya satu kali PCR. Tidak lagi dua kali negatif berturut-turut, tapi satu kali,” tuturnya.

Ada pun kategori berat yang dimaksud, lanjut wanita yang akrab disapa Dio itu, yang menentukan adalah dokter yang merawat pasien. “Dokter yang menentukan. Dimana terjadi kesulitan, misalnya gagal nafas atau ada gagal dari organ-organ lain,” ungkapnya.

Ditanya soal pengawasan jika pasien positif melakukan isolasi mandiri di rumah, Dio menuturkan akan dilakukan olah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Seperti Puskesmas, Klinik-klinik dan dokter pribadi.

“Pemantauannya ada dua cara. Bisa dengan FKTP melakukan kunjungan ke rumah atau pemantauan lewat telepon,” ucapnya.
Walaupun perubahannya sangat drastis, wanita berjilbab itu mengaku pihaknya tetap mengikuti aturan yang telah dikeluarkan oleh Kemenkes. “Selaku penyelenggara di daerah kami wajib mengikuti aturan,” tandasnya.Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *