background img

MUHASABAH DIRI SEBELUM DAN SETELAH BERBUAT

1 month ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Muhasabah atau introspeksi diri adalah perenungan diri untuk menghitung apa yang telah kita lakukan sebelum Allah SWT menghisab amal kita pada Hari Pembalasan.

Muhasabah diri adalah salah satu cara evaluasi dan membersihkan diri sendiri dari kesalahan-kesalahan yang mungkin telah diperbuat.

Muhasabah adalah memperhatikan dan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan.

Termasuk memperhatikan niat dan tujuan suatu perbuatan yang telah dilakukan, serta menghitung untung dan rugi suatu perbuatan.

“Hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya, apa yang telah dilakukan untuk hari esok. Jadi kita diingatkan untuk hari ini dan diperingatkan untuk hari esok. Kita diingatkan yakni ada hari yang sangat terkenal sekali dan hari dimana perhitungan yang dilakukan oleh Allah tidak sama sekali meleset atau kurang sekecil apapun yaitu yaumul hisab,” kata Ustadz Moch. Ibrahim dalam program Lentera Qolbu yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim di Radio KPFM Balikpapan, Sabtu (8/5).

Muhasabah sangat dianjurkan sekali oleh Rasulullah SAW, agar kita tidak lupa. Karena dunia ini sifatnya sangat menyilaukan, dunia adalah senda gurau. Orang-orang yang tidak ingat dengan apa tujuan daripada kehidupan di dunia ini maka ia termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Jadi dalam beramal di dalam kehidupan ini baik siang maupun malam, seorang muslim bertujuan yang paling utamanya adalah mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Namun untuk mendapatkan dua tujuan itu tidaklah mudah, tentunya banyak proses-proses yang harus dilalui, salah satunya adalah untuk mengharap kemuliaan Allah, keridaan Allah nanti di akhirat adalah dengan cara muhasabah.
Karena muhasabah salah satu cara untuk melawan lupa, karena kalau sudah lupa maka kesenangan dan kemewahan itu dianggap sesuatu yang menyenangkan padahal itu sementara saja. Sehingga kalau sudah lupa maka tujuan di akhirat itu terabaikan.

Sehingga ketika seorang muslim yang menyadari untuk mengkalkulasi amalan yang dilakukannya, jika dia melihat adanya kekurangan dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam beragama, maka dia harus mencegah diri. Segera menghitung-hitung diri Ketika merasa merasa merugikan dirinya sendiri, maka tidak ada kesempatan lain kecuali menyalahkan diri sendiri tanpa menyalahkan orang lain.

“Disinilah substansi daripada sebuah muhasabah diri atau muhasabah diri nafsu, dengan harapan dengan tujuan untuk menimbang, menghitung, dalam rangka memperbaiki dan meluruskan niat untuk membersihkan dan mensucikan atas apa yang sedang diperbuat maupun setelah diperbuat,” terangnya.

(MAULANA /KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *