background img

MENJAGA KESEHATAN JANTUNG SELAMA PANDEMI

7 days ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Menjaga kesehatan dan diri dari dari risiko penularan Covid-19 memang penting. Tapi yang seringkali banyak terlupa juga dan terabaikan, ialah menjaga diri tetap sehat agar terhindar dari penyakit jantung dan penyakit tidak menular lainnya.

Penyakit jantung biasa disebut sebagai silent killer, karena penyakit ini kerap muncul secara tiba-tiba dan seringkali merenggut nyawa penderitanya.

Jantung memiliki fungsi sebagai pemompa darah yang berisi nutrisi serta oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh. Saat jantung sudah tak mampu melakukan fungsi tersebut, karena beberapa penyakit atau kondisi tertentu, akan dapat berujung kematian. Maka dari itu, menjaga kesehatan jantung sedini mungkin sangatlah penting untuk dilakukan, terutama pada masa pandemi seperti sekarang.

“Kalau melihat kondisi sekarang faktor usia ini tidak mesti usia di atas 40-an. Bahkan ada yang di usia 30 an, bahkan juga di usia 20-an itu sudah ada yang kena. Tetapi itu jarang sekali,” kata dr. Christiani Muljono, SP, JP,FIHA dari Rumah Sakit Siloam Balikpapan dalam Talkshow di Radio KPFM Balikpapan bersama Sherly Kezia, Kamis (7/10).

Ia menjelaskan, apabila bicara faktor risiko jantung koroner itu ada yang bisa diubah dan ada yang tidak bisa diubah. Kalau yang tidak bisa diubah itu seperti faktor usia, misalnya di atas 40 tahun itu lebih berisiko jantung koroner.

Kemudian juga faktor orang tua atau keluarga. Itu juga lebih berisiko terkena jantung koroner. Untuk risiko jantung koroner yang di usia muda.

“Tapi kalau bicara faktor keturunan, ini memang tidak mesti. Misalnya orangtua kita punya penyakit jantung, terus kita punya risiko penyakit jantung, tidak mesti seperti itu. Jadi kalau orang tua kita punya penyakit jantung kita punya risiko yang lebih tinggi terkena jantung koroner dibandingkan orang lain, yang orang tuanya tidak punya penyakit jantung,” jelasnya.

Sementara itu, ada faktor yang bisa untuk menjaga jantung agar tetap sehat, yang pertama adalah menjaga tekanan darah agar terhindar dari risiko darah tinggi. Yang kedua adalah menjaga gula darah agar terhindar dari risiko diabet. Dan yang ketiga adalah kolesterol, jangan sampai tinggi.

“Kalau bicara kolesterol dan gula darah ini juga berbicara tentang faktor keturunan. Dan itu memang terjadi karena kelainan genetiknya. Tubuhnya tidak bisa. Metabolisme tubuhnya itu tidak normal seperti orang lain yang punya kolesterol yang tidak tinggi banget,” ujarnya.

Kemudian faktor yang bisa diubah lainya adalah aktivitas fisik atau secondary lifestyle, jangan banyak duduk. Itu harus dirubah dan banyak bergerak. “Lebih banyak olahraga dan kurangi duduk-duduk,” terangnya.

Kemudian faktor yang bisa diubah lagi adalah faktor stres, hindari alkohol kemudian makanan dan berat badan.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
Uncategorized

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *