background img

MENCIPTAKAN GENERASI ISLAMI DENGAN SENTUHAN IBU

5 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Membahas kisah tentang sosok ibu tidak akan ada habisnya. Terlebih ibu merupakan sumber kehidupan manusia. Melalui ibu, janin berkembang di rahimnya selama kehamilan 9 bulan, hingga dilahirkan ke dunia. Tidak hanya hamil dan melahirkan, tapi seorang ibu juga menyusui anak yang sudah ia lahirkan kurang lebih selama 30 bulan. Sangat panjang dan berat perjalanan seorang ibu.

“Banyak sekali kisah-kisah seorang ibu yang sangat inspiratif terutama kisah para ibu yang mendidik anaknya hingga menjadi para ulama besar. Seperti Imam Syafi’I yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri, karena ia sudah menjadi yatim. Karena keterbatasan dana, membuat imam Syafi’I tidak bersekolah. Tetapi sang ibu mengajarkannya membaca Al-Quran hingga usia 7 tahun ia menjadi penghafal Al-Quran berkat didikan ibunya,” ucap Ustadz Didin Hasiruddin, S.Th.I saat bertausiyah di Program Sajadah yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim, Jumat (18/12).

Program yang disiarkan oleh Radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan ini sempat membuat haru Elyana Sesil selaku host. “Ngomongin tentang ibu, saya jadi haru ustadz. Apalagi jika mengingat bagaimana rasanya melahirkan seorang anak. Seorang ibu itu rela mati demi melahirkan anaknya,” ucap Sesil.

Hal ini dibenarkan oleh Ustadz Didin. “Walaupun saya tidak bisa melahirkan tetapi saya melihat dan merasakan bagaimana istri saya melahirkan anak-anak saya. Itulah mengapa derajat seorang ibu lebih tinggi daripada ayah,” jelas Didin.

Seorang ibu wajib hukumnya untuk mengembangkan diri berupa menambah ilmu Pendidikan tentang anak, dan yang paling penting ilmu agama. Jangan bersedih jika ada seorang ibu yang sudah menempuh pendidikan hingga S2 ataupun S3 tetapi hanya di rumah mengurus anak. “Anak-anak yang cerdas dan hebat itu berasal dari seorang ibu yang cerdas. Ibu merupakan madrasah bagi anak-anaknya di rumah. Alangkah baiknya seorang ibu bisa memiliki kosakata yang banyak dan baik karena jika perasaan marah itu datang, yang terucap tetap kalimat-kalimat yang baik,” ucapnya.

Istilah surga di telapak kaki ibu itu tepat sekali, karena sesuai dengan perjuangannya, pantas jika disematkan istilah itu. “Taat dan patuhlah pada ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu agar kita didekatkan dengan surga dan bisa menjadi anak yang soleh dan soleha,” tutupnya. (*)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *