background img

MEMBANGUN HARMONI DALAM KEBERAGAMAN

10 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai adanya perbedaan-perbedaan, baik pendapat, pemikiran, agama, dan adat istiadat budaya. Toleransi selanjutnya bermakna membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia atau hablum minannas.

Dalam Alquran ditemukan banyak contoh soal toleransi. Dalam kontes keluarga, misalnya, disebutkan apabila kedua orang tua kita menyuruh kepada agama lain atau kemusyrikan, kita tidak boleh mematuhinya karena dalam Islam tiada kepatuhan kepada makhluk apabila durhaka kepada khalik. Namun demikian, kita disuruh tetap membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tua.
“Allah menggunakan kata An-Nas, sebagai isyarat Allah sedang berbicara dalam konteks manusia sebagai makhluk sosial. Allah menyampaikan bahwa penciptaan dengan keberagaman yang luar biasa, adalah pemberian dari Allah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun,” kata Ustadz Dr. H. Indrianto Faishal, MA dalam program Sajadah Jumat yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim, Jumat (24/12).
Ia menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan dari golongan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku, tujuannya untuk membangun kebersamaan, untuk saling kenal mengenal.
Oleh karena itu saling mengenal, membangun harmoni merupakan perintah agama. Apalagi Indonesia merupakan negara yang kaya dan luar negeri biasa.
Maka hal ini adalah potensi yang sangat besar, dan keberagaman ini merupakan sesuatu yang diberikan Allah, dan untuk menyikapi ini, kita harus membangun harmoni.
“Harmoni yang saya maksud adalah harmoni antar umat beragama, dan harmonis antara ajaran umat beragama di antara itu.
Karena Indonesia merupakan negara yang besar, maka kita harus membangun harmoni antar umat beragama.
Negara harus hadir untuk mengayomi keberagaman ini, karena memang keberagaman itu adalah natural, pemberian dari Allah kepada bangsa kita, oleh karena itu kita harus membangun harmoni antar umat beragama,” katanya.
Namun ia memberi garis bawah dalam konteks menghargai, kita punya prinsip yang namanya toleransi, karena generasi dalam Islam tentu ada batas-batasnya.
“Dan tidak ada persoalan dan tidak dilarang dalam agama kita membangun hubungan baik dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita, selama tidak mengusir kamu dari kampung halamannya. Dalam Alquran jelas disebutkan lakum dinukum waliyadin, seorang muslim dalam konteks hubungan teologi atau keyakinan, saudaraku yang beragama Kristen, saudaraku yang beragama Katolik, maupun Konghucu adalah Anda adalah saudara saya. Tapi dalam agama kita punya ranah masing-masing,” terangnya.
(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published.