background img

KARTU STOP UNTUK CEGAH KECELAKAAN

2 years ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Segmen Ruang HRD bersama One HR Chapter Kalimantan pada program Karir dan Keluarga (KK) radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, edisi siar Selasa (26/3), kembali menghadirkan narasumber dari HSE Indonesia Regional Balikpapan.

Dua narasumber Napiah dan Rahmawaty dalam talkshow yang dipandu announcer Jessica Vathur, mengangkat tema seputar STOP (Safety Training Observation Program) Card.

Disebutkan, kartu STOP bertujuan untuk mencegah kecelakaan semua pihak. Di beberapa perusahaan ada yang menggunakan istilah STOP Card, ada pula yang menggunakan Istilah Cermat, dan SWA (Stop Work Autority).

“Persepsi dan standar keselamatan setiap orang berbeda. Di sinilah tantangannya untuk menyamakan standar keselamatan. Kecelakaan kerja seperti gunung es, yang terlihat hanya segelintir kecelakaan fatal yang berakhir dengan kematian,” ujar Napiah.

Namun, lanjutnya, bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata semua berakar pada banyaknya kondisi tidak aman (unsafe condition) dan tindakan tidak aman (unsafe action).

Napiah menjelaskan, pada piramida kecelakaan setiap  kecelakaan fatal, di dalamnya terdapat kecelakaan ringan sebelumnya. Pada kecelakaan ringan akan terdapat insiden yang menimbulkan kerusakan alat, atau bahan sebelumnya. Dan kerusakan alat atau bahan di dalamnya ada nearmiss (hampir celaka) sebelumnya.

“Dengan memperhatikan kejadian atau insiden kecil, mudah-mudahan tidak mengalami kecelakaan fatal yang bisa berujung pada kematian,” ujarnya.

Dikatakan, untuk siklus pembuatan Kartu STOP bisa dimulai dengan melakukan pengamatan 10 hingga 15 menit. Menghentikan pekerjaan sementara, dengan mengamati orang yang melakukan pekerjaan. Lalu dengan teliti dan hati-hati mengamati dan melakukan komunikasi atau diskusi mengenai tindakan safe dan unsafe. Dan terakhir menuliskan hasil pengamatan di Kartu STOP dengan benar.

“Saat melakukan pengamatan, perusahaan merasa diuntungkan karena dengan meluangkan waktu sekitar 10 hingga15 menit, bisa meminimalisir kecelakaan kerja. Bahkan zero accident. Sehingga kerugian perusahaan yang lebih besar bisa dihindari,” paparnya.

Napiah sependapat bahwa masih ada sebagian orang yang menganggap Kartu STOP sebagai kartu tilang. Padahal, Kartu STOP hanya bahan laporan pengamatan. Butuh komitmen semua pihak untuk menjalankan Kartu STOP.

Saat ditanya pendengar KPFM mengenai trend kecelakaan yang terjadi, Napiah mengatakan, trend kecelakaan pada setiap perusahaan akan berbeda. “Namun 90 persen kecelakaan terdapat pada tangan dan jari,” ujarnya.(JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow · Tips

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *