background img

JAUHKAN DIRI DARI HUTANG

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Pandemi Covid-19 membuat banyak orang harus kehilangan pekerjaan. Dalam keadaan sulit seperti saat ini, tidak sedikit orang yang terpaksa harus berhutang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hukum hutang piutang dalam Islam sangat fleksibel tergantung dengan keadaan yang terjadi, selama bertujuan baik untuk membantu mengurangi kesusahan maka hukumnya mubah atau boleh.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 245 yang artinya siapapun mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan melipatgandakan pembayarannya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah akan melapangkan rezeki dan kepada-Nya lah akan dikembalikan.

“Di zaman sekarang ini banyak orang yang memanfaatkan hutang piutang dengan mengambil riba. Sedangkan hukum riba di dalam Islam sangat diharamkan. Karena tidak sesuai dengan syariat Islam, bahkan Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah 275 bahwa Allah telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba,” kata ustadz Syamsul Bakhri dalam program Sajadah Jumat yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim di Radio KPFM Balikpapan, Jumat (15/10).

Dalam hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berhutang, namun itu tidak bisa diartikan bahwa beliau sangat gemar berhutang, karena Rasulullah sendiri sangat menghindari kegiatan berhutang kecuali dalam keadaan mendesak atau terpaksa. Dan Rasulullah pernah berhutang karena memang kebutuhan akan makanan.

Sebenarnya berhutang sendiri bukanlah perbuatan dosa dan bukan juga perbuatan yang tercela, jika yang berhutang tersebut menggunakan apa yang dihutanginya sesuai dengan kebutuhannya. Namun dalam hal ini Islam juga tidak membenarkan untuk gemar berhutang dan selalu berhutang. Karena hukum untuk tidak membayar hutang itu tidaklah mudah, karena hal tersebut akan mengarahkan kepada perbuatan yang mungkar.

“Berhutang itu memang di dalam Islam hukumnya mubah atau boleh tapi tidak dianjurkan, karena memang banyak sekali akibat yang terjadi ketika seseorang terlilit hutang. Orang yang terlilit hutang biasanya akan menjadi orang yang ingkar janji, dan sangat gemar berdusta, untuk melindungi diri dari hutang-hutangnya,” ujarnya.

Rasulullah SAW bersabda siapa saja yang berhutang, dengan berniat tidak mau melunasinya maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat dengan status sebagai seorang pencuri.

Ketika meninggal orang yang terlilit hutang jenazahnya tidak akan disalatkan dan tidak akan terampuni dosanya sekalipun yang bersangkutan mati syahid. Lalu, yang bersangkutan juga akan tertunda masuk ke dalam surga. Dan hutang-hutangnya juga akan mengurangi pahala yang dimilikinya untuk mengganti hutang-hutangnya.

Karena itulah, Islam mengatur tentang adab adab berhutang , yang pertama adalah dengan diadakannya perjanjian hitam di atas putih atau tertulis dengan adanya saksi yang dipercaya.

Yang kedua, seseorang yang memberikan hutang itu tidak memberikan keuntungan atas hutang yang diberikannya, dan yang ketiga seseorang yang berhutang harus berniat untuk melunasi hutangnya dan harus membayar hutangnya dengan cara yang benar, dengan membayar dengan harta atau benda yang nilainya sama dengan apa yang dipinjamnya. Yang keempat

berhutang la dengan orang yang memiliki penghasilan yang halal, yang kelima hutang piutang hanya dilakukan dalam kondisi darurat saja. Yang keenam adalah jangan menyertakan hutang piutang dalam kegiatan jual beli. Jika ada keterlambatan dalam membayar hutang maka beritahukanlah kepada pihak yang memberikan pinjaman.

Yang ketujuh gunakan harta pinjaman tersebut dengan baik dan benar. Yang ke-8 pihak yang memberikan hutang dapat menangguhkan hutang yang diberikan selama yang berhutang sudah tidak sanggup membayar hutang yang dimilikinya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *