background img

HILANGKAN STIGMA COVID-19

1 year ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Menjaga imunitas tubuh merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mencegah ancaman virus Corona.

Tidak hanya dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap prima dengan selalu berolahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat, namun menjaga kesehatan secara psikologis dengan selalu berfikir positif juga harus dilakukan, agar imunitas tubuh tidak mudah turun dan gampang terserang penyakit.
“Ini bukanlah akhir dari segalanya. Jangan kemudian ini menjadi stigma, yang menyebabkan imun kita menurun,” kata Rio Dwi Setiawan, M. Psi, seorang psikolog dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan ketika menjadi narasumber talkshow di radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Rabu (26/8).

Ia menjelaskan, stigma tentang ancaman Covid-19 ini muncul karena masyarakat banyak terpapar oleh sumber informasi dan berita-berita yang belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya. Yang menyebabkan kondisi psikologis seseorang menjadi berkecamuk. Seperti informasi-informasi yang menyebutkan jumlah kasus kematian akibat Covid-19.

Padahal berdasarkan data, virus Corona bukan merupakan penyebab kematian paling tinggi. Penyebab kematian paling tinggi banyak diakibatkan oleh kejadian kecelakaan kendaraan.

“Kasus kematian akibat kecelakaan itu mencapai 1,350 juta per tahun. Sedangkan Covid baru 600 ribu. Jadi sebenarnya ada hal lain yang harus dikhawatirkan. Seperti ada orang di jalan sibuk memakai masker tapi tidak pakai helm,” ujarnya.

Pada dasarnya, untuk menjaga imunitas tubuh masyarakat hanya perlu untuk selalu menjaga protokol kesehatan dengan selalu mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker. Serta menjauhkan diri dari informasi negatif yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh.

“Kenapa sih kok stigma ini bisa muncul, karena Covid-19 ini baru banget, dan kemudian menerjang Indonesia Maret 2020 lalu. Orang belum tahu sama sekali soal apa itu Covid-19, bagaimana obatnya, maksudnya belum ditemukan, dan diketahui sangat menular. Padahal kata teman-teman dokter bahwa kesembuhannya sampai 90 persen. Itu tinggi kesembuhannya.

Kalau kita merujuk data angka kematian tertinggi, itu pada kasus kecelakaan,” ujarnya.
Termasuk mencegah stigma masyarakat terhadap Covid-19, terutama kepada pasien atau keluarganya, dengan tidak melakukan diskriminasi.

“Coba kita berhenti sejenak, lalu berpikir kalau misalnya kita pada posisi itu. Bagimana rasanya. Jadi filter kita supaya nggak terlalu heboh dalam menanggapi suatu permasalahan,” terangnya.(MAULANA/KFPM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *