background img

HIDUP BAHAGIA BERSAMA KELUARGA

2 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Memiliki keluarga yang sakinah merupakan dambaan setiap pasangan yang menikah.
Pernikahan sendiri adalah suatu jalan untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai guna membangun rumah tangga dan membentuk keluarga yang berlandaskan sakinah, mawaddah wa rahmah.

Selain itu, menikah juga bertujuan untuk menyempurnakan separuh agama, menjalankan sunnah Rasul dan semakin mendekatkan pasangan suami isteri pada kepada ridho Allah SWT.

“Sesungguhnya keluarga adalah institusi terkecil dalam kehidupan dan ini adalah atau fondasi dari seluruh institusi terbesar di dunia,” kata ustadz Khusnul Afif dalam program Lentera Qolbu yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim di Radio KPFM Balikpapan, Senin (26/4).

Menurutnya, agar menjadi keluarga sakinah setiap pasangan itu harus memiliki konsep untuk menghadirkan ketenangan, yang pertama adalah membangun toleransi kedua pasangan agar bersinergi untuk mencapai target sakinah.

Lalu, hidup bahagia bersama keluarga itu akan bisa terwujud apabila ada mawaddah untuk mencapai kedamaian dengan penuh kasih sayang di dalamnya. Dan yang terakhir adalah warahmah yang berisi unsur kasih sayang dalam keluarga.

“Disebut toleransi karena Allah ciptakan manusia terlahir tidak ada yang sempurna dan tidak bisa hidup dengan sendiri, maka disebutkan di dalam Al Quran bahwa setiap pasangan yang Allah berikan itu seperti botol dengan tutupnya. Tutupnya kelihatannya kecil tidak memiliki cekungan yang luas, tapi fungsinya itu menjaga keutuhan isinya botol. Maka botol dengan tutupnya tidak boleh saling merasa dirinya yang berjasa dan paling penting,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa keluarga adalah pilar institusi terkecil dari sebuah negara. Jika keluarga itu beres maka generasinya akan menjadi beres.

Dalam keluarga laki-laki itu sebagai penentu penanggung jawab kemudian pelindung. Lalu, wanitanya sebagai yang menghadirkan kemaslahatan kemudian yang taat dan patuh kepada kebijakan yang diambil oleh suami. Kemudian mampu memelihara seluruh aset di dalam pernikahan, apakah itu aset dalam bentuk finansial, nama baik atau dalam bentuk keturunan.

Pernikahan itu adalah ibadah untuk menyempurnakan berapa separuh dari agamanya, maka seseorang itu di dalam agama baik dan benar terlihat dari urusan keluarganya.

Sehingga dibutuhkan toleransi dalam proses perjalanan hidup suami maupun istri, karena masing-masing punya latar belakang, punya karakter kemudian punya background dan punya warisan DNA dari pasangan ayah dan ibunya. Maka itu tidak pernah ada satu pasangan yang sama di dunia.

“Pasangan itu mesti harus berbeda karena itu fitrahnya, kalau ada orang yang berpasangan dengan satu jenis maka itu adalah menyalahi kodrat, kalau mencari pasangan yang sama sisinya sama misinya sama hobinya, maka itu tidak akan menjadi sebuah sinergi,” terangnya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *