background img

DETEKSI DINI KELOMPOK RADIKAL

8 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Sebagai salah satu garda terdepan, anggota TNI harus memiliki tingkat kesiapsiagaan yang optimal. Sehingga siap menjalankan amanat tugas dari negara, kapan dan dimanapun dibutuhkan.

Panglima Kodam VI/Mulawarman Mayjen TNI Teguh Pudjo Rumekso menyampaikan itu saat memimpin apel gelar pasukan di lapangan Merdeka, Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan Kota, Kamis (27/1).
Apel tersebut dikuti oleh 1.066 prajurit dari Satuan Tempur, Satuan Bantuan Tempur dan Satuan Balak Kodam yang berada di wilayah garnisun Balikpapan. Hadir juga Kasdam VI/Mlw, Irdam VI/Mlw, Kapok Sahli Pangdam, para asisten serta para Kabalak dan Dansat.
“Apel gelar pasukan ini memiliki makna sangat penting bagi Kodam. Sebagai salah satu bentuk sederhana untuk mengukur kesiapsiagaan Satuan Kodam VI/Mlw dalam melaksanakan tugas sebagai bagian integral dari TNI yang merupakan komponen utama pertahanan negara,” katanya.
Terkait pemindahan IKN ke Kaltim, jenderal bintang dua tersebut menegaskan bahwa rancangan undang-undang ibu kota negara telah disahkan menjadi undang-undang. Ini merupakan sebuah kepastian hukum yang diperlukan dalam pelaksanaan pemindahan ibu kota negara baru ke wilayah Kaltim.
“Kodam VI/Mulawarman berkomitmen untuk mengawal pelaksanaan pemindahan ibu kota negara tersebut. Dan jangan sampai ada upaya untuk menciptakan gangguan dalam bentuk apapun,” ungkapnya.
Pangdam menambahkan, salah satu ancaman serius yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah paham radikalisme. Kita harus memiliki kepekaan untuk senantiasa waspada terhadap perkembangan paham ini terutama di wilayah Kodam VI/Mulawarman.
“Laksanakan deteksi dini, cegah dini, temu cepat dan lapor cepat untuk mempersempit ruang gerak paham radikalisme,” ucapnya.
Kepada Komandan satuan, Pangdam meminta agar senantiasa memelihara kesiapan operasional satuannya. Yakinkan bahwa dalam setiap melaksanakan tugas apapun, tiap perorangan mengerti tugas dan tanggung jawab masing-masing.
“Pastikan setiap prajurit, paham tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai dengan aturan pelibatan yang berlaku. Setelah anggota paham, latihkan bagaimana implementasinya di lapangan, sehingga tidak ada lagi keraguan dalam bertindak,” tandasnya.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published.