background img

CERMAT MEMILIH INVESTASI

1 year ago written by

 

KPFM BALIKPAPAN – Pandemi Covid-19 yang telah terjadi Maret 2020 lalu, telah menyebabkan menimbulkan dampak krisis ekonomi yang cukup besar di sejumlah negara termasuk Indonesia.

Indonesia diperkirakan akan mulai mengalami dampak resesi pada kuartal ketiga atau awal September tahun 2020 akibat penurunan pemasukan negara dari sejumlah sektor perekonomian yang melambat.

Meski ancaman krisis ekonomi sudah di depan mata, namun krisis ekonomi yang terjadi tidak akan memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Krisis ekonomi yang terjadi hanya akan berdampak pada kondisi keuangan negara yang mulai tertekan akibat penurunan kegiatan perekonomian di sejumlah sektor.

“Tidak perlu terlalu berlebihan karena bisa jadi juga kita tahu harus berbuat apa, karena ketika terjadi resesi, impact yang yang pertama adalah bukan buat kita, tapi buat pemerintah. Sehingga yang perlu kita cermati adalah kebijakan-kebijakan pemerintah apa sih yang akan mereka lakukan, ini baru akan berefek pada kita,” kata Ryan Filbert, Praktisi & Inspirator Investasi Indonesia serta Penulis Puluhan Buku Best Seller Nasional di program Sarapan Pagi Radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan yang dipandu Sherly Kezia, Rabu (23/9).

Menurutnya, ancaman resesi ekonomi yang terjadi hanya akan memberikan dampak kepada pemerintah, karena kurangnya pemasukan negara dari sejumlah sektor, sehingga yang perlu dicermati adalah menyangkut kebijakan-kebijakan yang dibuat agar tidak merugikan masyarakat.

“Saat ini, dengan kondisi ekonomi yang sedang sulit tentu negara juga sulit untuk mencari hutang, sehingga akan dibuatkan kebijakan-kebijakan baru untuk meningkatkan perekonomian. Seperti rencana mencetak uang lebih banyak, hal ini tentu akan berbahaya, karena dengan bertambahnya jumlah uang yang beredar, tentunya akan menurunkan nilai tukar uang yang dimiliki oleh masyarakat,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, ia menyarankan kepada masyarakat untuk lebih mengarahkan uang yang dimiliki dipergunakan untuk berinvestasi jangka panjang seperti membeli properti, yang kebetulan harganya saat ini sedang turun.

“Kalau negara mencetak uang lagi, maka uang yang ada di kantong kita, karena jumlah uang beredar semakin banyak berarti nilai uangnya akan turun, yang harus kita lakukan adalah tidak bisa pegang uang. Hati-hati, menaruh uang di bank saja bisa jadi nggak ada harganya,” ungkapnya.

Meski demikian dalam menentukan investasi, masyarakat juga harus cermat dalam menentukan nilai investasi yang akan ditanam. Dengan tidak mempergunakan seluruh kemampuan modal untuk membeli investasi yang bersifat jangka panjang. Harus ada investasi yang bersifat liquid seperti emas yang dapat dicairkan kapan saja ketika yang bersangkutan membutuhkan biaya.

“Pada saat ini saya yakin sekali banyak properti-properti yang sudah mulai gugur bunga (harganya turun). Ada orang-orang yang butuh uang akhirnya menjual properti. Ternyata tidak semuanya liquid. Jadi dalam berinvestasi jangan semuanya dibelikan properti. Boleh diimbangi investasi liquid yang dapat dicairkan kapan saja seperti emas, jadi ketika butuh uang bisa dipergunakan,” jelasnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak berlebihan dalam menanggapi ancaman resesi ekonomi yang terjadi, dengan tetap melakukan kegiatan secara normal agar perekonomian yang ada tetap berjalan.

“Bukannya mengajari orang berhutang, yang namanya bank juga hari ini diminta untuk mengucurkan kredit. Karena kalau uang tidak beredar, maka tidak ada pertumbuhan ekonomi. Dan jangan lupa bahwa pertumbuhan ekonomi itu dihitung bukan hanya diinginkan, tapi juga dihitung oleh konsumsi masyarakat dan juga government spending. Jadi pengeluaran uang dari pemerintah itu juga bagian dari pertumbuhan ekonomi. Yang paling sederhana dalam kondisi hari ini, perhatian juga kondisi di sekitar kita, karena ada investasi-investasi lokal yang mungkin kalau Anda tidak ambil kesempatan hari ini, nanti ketika 5 tahun ini atau pun 6 tahun lagi Anda bisa jadi orang kaya. Karena pengalaman tahun 1998 bukannya banyak menghasilkan orang susah, tapi juga banyak orang kaya baru,” tutupnya.(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *