background img

BPOM: HERBAL BUKAN OBAT COVID-19

1 year ago written by

KPBBLIKPAPAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa hingga saat ini tidak pernah memberikan persetujuan klaim khasiat obat herbal yang dapat menyembuhkan pasien Covid-19.

“Sampai saat ini Badan POM tidak pernah memberikan persetujuan klaim khasiat obat herbal yang dapat menyembuhkan pasien Covid-19,” kata Kepala Loka POM Balikpapan Dra. Sumiaty Haslinda, Apt ketika menjadi narasumber dalam talkshow di radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Kamis (13/20).

Menurutnya, berdasarkan data produk yang terdaftar di Badan POM, produk herbal yang dinyatakan dalam informasi tersebut adalah Produk Obat Tradisional yang memiliki merek dagang Bio Nuswa dengan klaim yang disetujui yaitu membantu memelihara daya tahan tubuh. Produk Bio Nuswa tersebut didaftarkan oleh PT. Saraka Mandiri dengan Nomor Izin Edar POM TR 203 636 031 berlaku mulai 14 April 2020 hingga 14 April 2025.

Namun sampai saat ini PT. Saraka Mandiri belum pernah memproduksi produk Bio Nuswa.
Ia menegaskan, informasi bahwa mengonsumsi obat tradisional merupakan langkah paling tepat dalam mencegah dan menyembuhkan Covid-19 tidak benar. Pencegahan Covid-19 juga dapat dilakukan dengan selalu menerapkan protokol kesehatan dengan benar, di antaranya sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, physical distancing, penggunaan masker, serta menjaga asupan makanan yang bergizi.

Badan POM akan terus melakukan pengawasan produk di peredaran. Jika ditemukan produk yang mencantumkan klaim berlebihan dan/atau tidak sesuai dengan persetujuan yang diberikan pada saat produk didaftarkan, Badan POM akan menindaklanjuti sesuai peraturan perundang-undangan, untuk sanksi administrasi dan sanksi pidana.

Ia meminta kepada pelaku usaha termasuk produsen agar selalu menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Produk Obat dan Makanan harus memenuhi peraturan untuk jaminan aspek keamanan, khasiat (efikasi), dan mutunya. Termasuk peraturan terkait izin edar, iklan, dan label, antara lain klaim yang harus sesuai dengan izin yang diberikan pada saat pendaftaran.

“Masyarakat sebaiknya jangan mudah percaya terhadap berita yang belum jelas kebenarannya, karena segala sesuatu yang belum jelas terbukti kebenarannya dan menimbulkan perspektif yang beragam dapat dikatakan sebagai hoax. Berhati-hatilah untuk menggunakan obat tradisional, pastikan logo yang tertera dan pastikan obat tradisional tersebut telah terdaftar secara resmi di BPOM dengan cara cek kebenaran obat tradisional pada website pom.go.id atau aplikasi cek BPOM dan BPOM Mobile.

BPOM juga mendorong masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas dengan cara melakukan cek atas kemasan, label, Izin edar dan Kadaluarsa (KLIK),” jelasnya.
Badan POM mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk herbal secara aman dan tepat dengan tidak mudah mempercayai pernyataan seseorang yang menyatakan bahwa obat herbal ampuh mengobati Covid-19, kecuali sudah tervalidasi dengan uji klinik pada manusia. Lalu, melakukan cek Izin edar dan Kadaluarsa (KLIK) serta memastikan kemasan dalam kondisi baik.

Ia menambahkan, produk herbal merupakan produk yang berasal dari sediaan bahan alam, dapat digunakan sebagai bahan baku produk obat tradisional. Sedangkan produk obat tradisional merupakan bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik, atau campuran bahan-bahan tersebut secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Sesuai peraturan BPOM No. 32 tahun 2019 tanggal 23 Oktober 2019 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Tradisional maka Obat Herbal Terstandar (OHT) atau fitofarmaka harus memenuhi parameter uji persyaratan keamanan, dan mutu obat jadi, yaitu organoleptik, kadar air, cemaran mikroba (E.coli, Clostridia, Salmonella, Shigella), aflatoksin total, cemaran logam berat (Arsen, Timbal, Kadmium dan Merkuri), ditambah dengan keseragaman bobot, waktu hancur, volume terpindahkan serta kadar alkohol/pH tergantung bentuk sediaannya.

Selain itu untuk OHT dan fitofarmaka harus memenuhi uji kualitatif dan kuantitatif dalam hal bahan baku (bagi OHT) dan bahan aktif (bagi fitofarmaka), serta residu pelarut (jika digunakan pelarut selain etanol). Pengujian semua parameter harus dilakukan di laboratorium terakreditasi atau laboratorium internal industri/usaha obat tradisional yang diakui oleh BPOM.

Dalam kesempatan itu dia menambahkan bahwa apabila masyarakat ingin bertanya secara langsung terkait informasi obat-obatan yang beredar dapat menghubungi ULPK Kantor Loka POM di Kota Balikpapan yang berlokasi di Jalan Telaga Sari RT 37 nomor 72, Kota Balikpapan atau melalui akun media sosial (Instagram : @lokapombalikpapan, facebook : @Loka POM di Balikpapan, dan twitter : @Lokapombpn, atau telepon (0542) 8793468).(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *