background img

BIJAK SEBELUM BERHUTANG

3 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Ketika ketersediaan dana yang dipegang dan tabungan di bank terbatas, akan mendorong beberapa orang untuk mempertimbangkan berhutang. Namun banyak akhirnya yang terjebak, karena tak mampu mengelola hutang dengan bijak.

Terlebih dana yang diperoleh dari hutang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal yang bersangkutan tidak memiliki kepastian kemampuan keuangan untuk membayar.

“Kalau orang yang terjebak hutang itu biasa namanya hutang yang tidak terkelola. Misalnya ada orang yang pergi berbelanja di swalayan dengan menggunakan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah pasti orang itu sudah tidak mengelola hutang dengan baik.

Apalagi kalau membayar dengan minimum pembayaran,” kata Ryan Filbert ketika menjadi narasumber di radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan yang dipandu Elyana Sesil, Rabu (9/2).

Ryan mengambil contoh perilaku masyarakat ketika berhutang dengan kartu kredit di masa pandemi Covid-19 ini, perbankan telah memberikan relaksasi pembayaran minimum kartu kredit sebesar 5 persen, lebih rendah dari kondisi normal yakni sebesar 10 persen.

Hal tersebut membuat beberapa orang menjadi tergiur untuk menggunakan kartu kredit dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, dengan membayar secara minimum.

Kondisi tersebut mengakibatkan banyak orang yang akhirnya terlilit bunga kartu kredit, karena hutang yang harus dibayar menjadi tidak kunjung habis.

“Kalau kita bicara utang yang paling familiar itu adalah kartu kredit. Kalau sudah digunakan untuk berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari dan dibayar secara minimum itu adalah ciri-ciri orang yang tidak bisa mengelola hutang,” ujarnya.

Apabila sudah terlilit hutang, ada tiga cara dalam melakukan negosiasi dengan perbankan. Yang pertama adalah memotong dari bunganya sehingga otomatis kita bisa meminta keringanan untuk pembayarannya.

Yang kedua adalah dengan meminta pemotongan waktunya, dengan menambah jangka waktu maka otomatis akan meringankan cicilan. Dan yang ketiga adalah dengan membayar pokoknya.

“Kalau memang kita tidak mampu membayar pada hari ini kita melihat ada tiga jenis pengampunan, karena memang pada dasarnya hutang itu tidak bisa dibayar dengan semangat bekerja,” tuturnya.

Ia menambahkan, bahwa tidak ada larangan untuk berhutang selama yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk membayar.

Namun cara yang terbaik dalam mengelola hutang adalah dengan tidak berhutang, karena kita tidak tahu pasti bagaimana kehidupan kita 2 atau 3 tahun ke depan. Apakah akan lebih baik dari pada hari ini.

“Prinsip ungkapan kencangkan ikat pinggang, itu sebenarnya tidak cocok untuk orang yang berhutang. Tapi itu lebih cocok untuk orang yang sedang berinvestasi. Kenapa? Karena kita tidak tahu pasti bagaimana kehidupan kita 2 atau 3 tahun ke depan, apakah lebih baik pada hari ini,” ujarnya.

Menurut Ryan, kalau untuk investasi mengencangkan ikat pinggang itu tidak apa-apa. “Karena ketika kita mengencangkan ikat pinggang maka investasi kita menjadi lebih banyak,” urainya.

(MAULANA/ KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *