background img

BANYAK UMKM BELUM PAHAM KEAMANAN PANGAN

3 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Di tengah situasi pandemi Covid-19, pertumbuhan pelaku usaha kuliner di sejumlah daerah di Indonesia berkembang pesat.

Seiring dengan perkembangan tersebut, diperlukan peningkatan pemahaman para pelaku usaha mengenal konsep keamanan pangan atau food security Karena masih banyak pelaku usaha yang ternyata masih banyak belum memahami konsep penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Bahan tambahan pangan sebenarnya merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk memengaruhi sifat atau bentuk pangan. Yang termasuk antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, bahan antigumpal, bahan pemucat dan pengental.

“Di era normal ini banyak sekali pelaku usaha bermunculan, yang perlu diedukasi, bagaimana cara memilih tambahan bahan pangan yang tepat. Kita harus selektif dalam memilih, kita harus melihat dari lebelnya,” kata Andini Paramitha, Staf Kefarmasian Di Dinas Kesehatan Kota Balikpapan dalam program talkshow di Radio KPFM Balikpapan, Senin (18/11).

Ia menjelaskan, bahwa bahan tambahan pangan itu sendiri memang merupakan bahan yang sengaja dimasukkan dalam bahan makanan pokok.

Sesuai Permenkes no 33 tahun 2012, lanjutnya, dijelaskan apa saja bahan tambahan pangan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.

Sedangkan untuk batasan takaran maksimum bahan tambahan pangan yang dipergunakan diatur oleh BPOM.

“Memang dalam praktiknya kita jelaskan juga kita tunjukan inilah peraturan yang menjadi dasar untuk penggunaan bahan tambahan pangan. Karena kalau bahan tambahan pangan ini melebihi batas maksimum itu akan membahayakan kesehatan, saya selalu menyampaikan bahan tambahan pangan seperti obat harus tahu batas maksimumnya harus tahu takaran dosis,” ujarnya.

Tidak hanya pelaku usaha, ternyata juga kebanyakan dari konsumen tidak tahu terkait aturan bahan tambahan pangan ini.

Sehingga diperlukan edukasi untuk mengingatkan bagaimana cara menentukan bahan tambahan pangan yang tepat berdasarkan label, apakah sesuai dengan Permenkes atau tidak.

“Memang kebanyakan dari konsumen tidak tahu terkait aturan bahan tambahan pangan ini. Sesuai aturan sebelum diterbitkan PIRT itu, ada penyuluhan keamanan pangan, salah satu materi yang diberikan adalah tentang bahan tambahan pangan.

Karena memang kebanyakan mereka tidak tahu. Jadi kita berikan edukasi mereka sebelum mereka launching,” pungkasnya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *