background img

ANTRE SOLAR EMPAT HARI, PERTAMINA KLAIM STOK AMAN

9 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Antrean panjang truk dan mobil berbahan bakar solar masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Balikpapan. Bahkan para sopir truk mengaku mengantre hingga empat hari. Mereka pun meminta agar kuota solar bersubsidi ditambah.
“Kuotanya harus ditambah, kalau masih sama maka antrean terus terjadi. Bahkan teman-teman sopir ada mengantre hingga empat hari. Kalau pun dapat hanya cukup dipakai untuk operasional dua hari. Setelah itu antre lagi empat hari, empat malam,” keluh seorang sopir truk Heru Setiawan kepada wartawan, Selasa (22/3).
Terkait persoalan ini, Pertamina Patra Niaga, Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha yang diamanahkan untuk menyalurkan kebutuhan bahan bakar masyarakat memastikan stok dan penyaluran bahan bakar berjalan dengan maksimal. Salah satunya adalah penyaluran solar subsidi.
“Stok dalam keadaan aman dan tersedia. Tidak ada kelangkaan solar karena kita salurkan setiap hari sesuai kuota yang telah ditetapkan. Untuk Kaltim kuotanya 205.382 KL tahun 2022, sampai pekan ketiga Maret ini tersalurkan solar subsidi sekitar 47 ribu KL,” ujar Unit Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Susanto August Satria.
Kuota tersebut, lanjut Satria, yang menentukan adalah Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi(BPH Migas). Sementara tugas Pertamina sesuai dengan ketentuannya adalah untuk mendistribusikan.
“Kami mengimbau agar BBM solar subsidi harus digunakan sesuai peruntukkannya, jangan sampai kendaraan yang bukan berhak menggunakan BBM solar subsidi menikmatinya. Sehingga diperlukan pengawasan bersama dalam penyalurannya,” imbuhnya.
Sementara itu, Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menuturkan, pertumbuhan ekonomi nasional saat ini yang realisasinya di atas lima persen pasti akan berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan energi. Salah satunya solar subsidi.
Menyikapi hal ini, Pertamina Patra Niaga akan terus memastikan stok dan menjamin terjaganya proses distribusi di lapangan dengan maksimal.
“Stok solar subsidi secara nasional di level 20 hari dan setiap hari stok ini sekaligus proses penyaluran ke SPBU terus dimonitor secara real time. Namun perlu diketahui secara nasional per Februari penyaluran solar subsidi telah melebihi kuota sekitar 10 persen,” jelas Irto dalam keterangan persnya.
Irto melanjutkan Pertamina Patra Niaga akan terus memonitor seluruh proses distribusi mulai dari terminal BBM hingga konsumen, untuk memastikan SPBU selalu tersedia bahan bakar bagi masyarakat. Khusus solar subsidi, pihaknya akan fokus pelayanan di jalur logistik serta jalur yang memang penggunaannya adalah yang berhak menikmatinya.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu panic buying. Pembelian bahan bakar kami imbau untuk tetap sesuai dengan kebutuhan dan untuk tetap hemat dalam penggunaannya mengingat saat ini harga minyak sangatlah mahal,” lanjutnya.
Mengacu pada Peraturan Presiden No 191 Tahun 2014, pengguna yang berhak atas solar subsidi untuk sektor transportasi adalah kendaraan bermotor plat hitam untuk pengangkut orang atau barang. Kendaraan bermotor plat kuning kecuali mobil pengangkut hasil tambang dan perkebunan dengan roda lebih dari enam.
Kemudian kendaraan layanan umum (ambulance, pemadam kebakaran, pengangkut sampah), kapal angkutan umum berbendera Indonesia, kapal perintis, serta kereta api penumpang umum dan barang.
Untuk memastikan agar pengguna yang berhak atas solar subsidi bisa dipahami masyarakat, Pertamina bersama seluruh stakeholder dan pemerintah melalui BPH Migas akan terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi mengenai regulasi yang telah dibuat mengenai penyaluran solar subsidi.
“Solar subsidi yang sesuai peruntukannya, sehingga penggunannya akan tepat sasaran dan masyarakat akan makin bijak menggunakan bahan bakar sesuai spek mesin kendaraannya. Untuk pelaku industri dan masyarakat mampu kami imbau agar menggunakan BBM diesel nonsubsidi seperti dexlite dan Pertamina dex, dan solar subsidi bisa digunakan oleh saudara kita yang lebih berhak dan membutuhkan,” ucap Irto.
Jika ada Indikasi penyalahgunaan solar subsidi, masyarakat dapat melaporkan langsung ke aparat. Dan jika kesalahan ada pada pihak SPBU, Pertamina juga tidak segan akan menindak tegas SPBU tersebut.
“Untuk informasi terkait seluruh produk dan layanan Pertamina, ataupun jika ingin memberikan informasi terkait solar subsidi di lapangan, masyarakat dapat langsung menghubungi Pertamina call center (PCC) 135,” tandasnya.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published.