background img

ANTARA BERILMU DAN BERIBADAH OLEH IMAM NAWAWI

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Agama Islam mengajarkan agar umat manusia memiliki adab.

Dalam kitabnya Imam Nawawi sangat menekankan yang namanya keilmuan, bahwa keilmuan itu bisa dikatakan berhasil jika ilmu ini disertai dengan adab. Karena sesungguhnya, Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini tidak lain menyampaikan tentang akhlakul karimah.

“Imam Nawawi berpendapat, bahwa ilmu itu akan menjadi berhasil manakala dilandasi oleh dua faktor yaitu faktor guru dan faktor murid itu sendiri,” kata ustadz Syamsul Bakhri dalam program Sajadah Jumat yang dipersembahkan oleh Dompet Dhuafa Kaltim di Radio KPFM Balikpapan, Jumat (17/9).

Dalam kitabnya, Imam Nawawi pertama kali membahas tentang adab seorang guru, yaitu dengan waspada terhadap sifat dengki, riya, ujub dan sifat merendahkan orang lain. Meskipun orang itu berada lebih rendah darinya.

Seorang guru dianjurkan banyak mengamalkan zikir, tasbih, tahlil, dan memperhatikan adab dalam berdoa. Dengan tidak merendahkan ilmu, dengan datang ke tempat orang belajar, kecuali memberikan manfaat yang besar karena berdakwah, hal ini dilakukan untuk menjaga harga diri seorang guru sehingga murid tidak meremehkan gurunya.

“Kalau kita lihat kondisi sekarang ini sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi dan berbagai faktor kesibukan-kesibukan lainnya, banyak seorang guru yang mendatangi murid-muridnya. Apakah melalui jalan privat atau sebagainya tetapi menurut Imam Nawawi, yang diharapkan adalah seorang murid yang mendatangi gurunya,” ujarnya.

Seorang guru juga harus memiliki adab terhadap ilmu yaitu dengan menggeluti dirinya dengan ilmu, seperti dengan banyak membaca atau menambah literasi. Menelaah mengomentari berdiskusi bahkan membuat buku dan tulisan.

Seorang guru sepatutnya terus belajar meskipun statusnya sebagai pengajar dan tidak sepatutnya gengsi untuk belajar kepada orang yang lebih muda, apa lebih rendah statusnya.

Seorang guru juga diharapkan selalu aktif mencari informasi di sekitarnya, tidak malu bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya.

Kemudian, seorang guru juga harus banyak menulis tentang masalah-masalah yang belum dibahas oleh orang lain, agar terhindar dari plagiasi atau menulis hal yang sama namun berbeda isi dan metode, sehingga tulisannya dapat dipertanggungjawabkan.

“Dalam hal Mengajar seandainya seorang guru memperhatikan kemampuan murid, oleh karena itu guru tidak boleh memberikan pelajaran yang berlebihan, yang tidak sanggup diterima oleh murid dan juga tidak boleh mengurangi apa sebenarnya masih sanggup oleh diterima murid,” terangnya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *