background img

21 RIBU BUTIR DOUBLE L GAGAL EDAR

2 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – FN (44), oknum warga Jalan Bukit Niaga, Kelurahan Klandasan, Balikpapan Kota, terpaksa harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Pekerja swasta itu diringkus oleh Tim Opsnal Satresnarkoba Polresta Balikpapan pada Rabu 7 April 2021 sekitar pukul 14.00 Wita. Ia terbukti memiliki obat terlarang jenis Double L sebanyak 21 ribu butir.

Pengungkapan kasus berawal saat anggota Opsnal Satresnarkoba Polresta Balikpapan yang mendapatkan informasi dari Loka POM Kota Balikpapan dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda, bahwa ada pengiriman ilegal obat keras menggunakan jasa ekspedisi ke Balikpapan.

“Barang ini dikirim melalui salah satu jasa pengiriman dari seseorang yang sampai saat ini belum bisa kami ungkap. Barang datang dari luar Balikpapan,” kata Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Turmudi saat pers rilis, Kamis (8/4) sore di Mako Polresta Balikpapan.

Informasi itu ditindaklanjuti oleh Tim Opsnal Satresnarkoba Polresta Balikpapan, bekerjasama dengan Tim Loka POM Balikpapan. Mereka mendatangi kantor jasa pengiriman yang dimaksud di Jalan Mayjen Sutoyo, Balikpapan Kota untuk melakukan pemeriksaan.

“Saat pemeriksaan terhadap isi kardus yang ada di jasa pengiriman, anggota menemukan 21 botol plastik berwarna putih masing-masing berisikan seribu tablet Double L,” ujarnya.

Usai memastikan isi kardus barang haram, Tim Opsnal selanjutnya menyamar sebagai petugas ekspedisi untuk mengantarkan obat keras tersebut ke alamat yang tertera di permukaan kardus. Hal itu untuk mengungkap siapa pemilik atau pemesannnya.

“Saat barang diantar, anggota langsung menangkap pelaku di kediamannya di Jalan Bukit Niaga, Kelurahan Klandasan Ilir, Balikpapan Kota,” ungkapnya.

Setelah diamankan, pelaku bersama barang bukti dibawa ke Mako Polresta Balikpapan untuk penyelidikan lebih lanjut. Hasilnya, diketahui jika sebelumnya pelaku sudah tiga kali berhasil mengedarkan barang haram tersebut di Kota Balikpapan.

“Sudah tiga kali, dan ini yang keempat digagalkan. Ia beraksi dari bulan Desember 2020, metodenya sama. Rencananya, barang akan diedarkan di Balikpapan dan Samarinda dengan harga jual Rp 700 ribu,” ucapnya.

Atas perbuatannya, FN dijerat pasal 196 dan pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *