background img

SANTRI JADI KORBAN SOSIAL

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Tingkat kesabaran dan kadar keimanan sejumlah santri di salah satu pondok pesantren di bilangan Kampung Timur, Gunung Samarinda Baru, Balikpapan Utara, benar-benar teruji. Betapa tidak, mereka harus tabah menerima cobaan terkucilkan oleh sebagian masyarakat. Ini pasca meninggalnya pimpinan pondok pesantren yang dikabarkan positif terjangkit virus Corona, Minggu (29/3).

Kondisi prihatin ini dirasakan Muhammad Zain Hakim, yang merupakan anak kedua dari almarhum saat bincang dengan KPFM, Jumat (3/4).
Sepeninggal sang kyai, para santri pun ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan sebagai Orang Dalam Pengawasan (ODP).

Pihak pondok telah memverifikasi jumlah santri yang dimaksudkan. Informasi menyebut 50 orang. Padahal hanya 39 santri. Sebelas orang sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Dari sejumlah itu, hanya 17 santri yang ikut rombongan ke acara Ijtima Asia di Pakatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Merekalah yang menjalani tes kesehatan.

“Memang kondisinya di dalam ponpes tenang, namun ketika mereka keluar untuk membeli kebutuhan di sekitar pondok, mereka menjadi terasingi oleh warga sekitar. Seperti ketika membeli makan atau minum kadang mereka tidak dilayani,” kata Zain dalam pertemuan di Kelurahan Gunung Samarinda Baru, Jumat (3/4).

Ia juga mempertanyakan sikap dari Pemerintah Kota Balikpapan yang menyampaikan informasi yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Seperti kronologis kedatangan pimpinan ponpes yang dikabarkan melalui kapal laut. Padahal sebenarnya datang ke Balikpapan dengan menggunakan transportasi udara.

Selain itu, lanjutnya, dirinya juga mempertanyakan terkait informasi yang disampaikan menyangkut identitas ayahnya, dimana disebutkan merupakan warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Padahal sesuai dengan identitas yang dimiliki di E KTP dan NPWP, ayahnya merupakan warga asli Kota Balikpapan.

Dengan kondisi tersebut pihaknya masih mempertanyakan sejumlah informasi yang disampaikan, karena tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Termasuk kepastian status ayahnya yang disebutkan positif terjangkit virus Corona, karena hingga saat ini pihak keluarga belum menerima surat keterangan resmi terkait kondisi kesehatan terakhir almarhum.

“Jadi kami harapkan kepada warga jangan terfokus dengan informasi yang beredar, apakah positif atau negatif. Rumah sakit belum memberikan keterangan resmi,” ujarnya.

Di samping itu, ia juga menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan terhadap 17 santri yang ada di ponpesnya dinyatakan negatif berdasarkan hasil rapid test yang dilakukan di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD), tertanggal 1 April 2020.

Surat hasil rapid test dari RSKD ditandatangani Dr Tika Adilistya Sp.PK tersebut tertera nama 16 santri. Pihak ponpes menginformasikan, satu santri yang melakukan rapid test mandiri disebutkan juga negatif.

Selain itu, ia juga telah menerima hasil pemeriksaan terhadap 31 jamaah asal Balikpapan yang ikut bersama dengan almarhum ayahnya ke Gowa, Sulawesi Selatan. Hasilnya dinyatakan negatif terjangkit virus Corona.
“Ini saya terima ada 31 jamaah di luar daftar santri, dan keluar semua negatif. Saya juga kumpulkan informasi jemaah yang lain, juga negatif dari hasil rapid test yang dilakukan,” terangnya.
Sementara itu Lurah Kelurahan Gunung Samarinda Baru Slamet Riyadi mengatakan, pihaknya akan menyampaikan permintaan para pengurus ponpes tersebut ke Wali Kota Balikpapan terkait nama baik ponpesnya, setelah pimpinan mereka dikabarkan meninggal akibat terpapar virus Corona.

Selain itu, pihaknya juga akan berkomunikasi dengan warga sekitar agar terkait status ODP para pengurus dan santri yang ada di ponpes tersebut. Ketujuhbelas santri yang ikut dalam kegiatan di Gowa, juga sudah menjalani isolasi di ruang tertentu di kawasan ponpes hingga 14 hari.

“Persoalannya adalah pemahaman masyarakat terkait status mereka yang ODP, supaya tidak ada tekanan sosial ketika mereka menjalani masa observasi 14 hari,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya meminta kepada masyarakat memfasilitasi para warga ponpes untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, agar tidak harus meninggalkan lokasi tempat tinggalnya.
“Memang harus ada yang fasilitasi, mereka butuh apa, sehingga diantar tidak perlu ke mana-mana,” pungkasnya.

Sementara Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarty dalam jumpa pers di aula Rumah Dinas Walikota Balikpapan Jumat sore (3/4) menjelaskan, 50 santri yang masuk dalam kategori ODP tersebut tersebar di beberapa tempat, seperti di Kampung Baru, Manggar dan di ponpes di Kampung Timur. Ini hasil tracking dari cluster Gowa. “Mungkin saja masih ada yang lain,” ujarnya.

Dokter Dio –sapaan akrab Andi Sri Juliarty membenarkan, hasil rapid test 16 santri adalah negatif. Ia berharap agar para santri tetap menjaga stamina dan isolasi mandiri. (MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *