background img

Ribuan Burung Berkicau Gagal Diselundupkan

5 years ago written by
Dikirim dari Balikpapan, Diamankan di Surabaya
Penyelundupan burung berkicau sepertinya masih terus terjadi. Terlebih pemerintah juga melarang keras warga untuk memelihara bintang unggas tersebut. Teranyar, Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya menggagalkan penyelundupan ribuan burung berkicau asal Balikpapan.
Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan BBKP Surabaya Retno Oktorina mengatakan, ada 4.465 burung berkicau selundupan dari luar pulau masuk ke Surabaya pada November hingga Desember 2015.
“Rata-rata, pola penyelundupannya menggunakan sarana angkutan kapal motor (KM) Kirana, yang selalu menjadi jembatan para pelaku saat melakukan aksinya. Biasanya dari Banjarmasin, Kalteng, dan Balikpapan,” katanya.
Retno merincikan ribuan burung itu terdiri dari 1.205 ekor dikirim dari Banjarmasin, yang diamankan antara 10 hingga 12 November. Sisanya 3.260 burung dari Balikpapan, yang diamankan pada 3 Desember 2015. “Terakhir, Sabtu (12/12), kami menggagalkan upaya penyelundupan 556 ekor burung jenis jalak kerbau dan cucak keling,” bebernya.
Ia menjelaskan, burung yang diamankan merupakan dari berbagai jenis dan diketahui bukan dari hasil penangkaran, melainkan burung liar dari hutan Kalimantan yang ditaksir dengan harga antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu/ekor.
Sementara untuk 556 ekor burung, 320 ekor di antaranya jenis jalak kerbau atau yang akrab disebut jalak kebo atau memiliki nama latin Acridotheres Javanicus, dan selebihnya 236 ekor merupakan burung cucak keling. “Dari 556 burung, kami temukan 14 di antaranya sudah tidak bernyawa alias mati, dengan rincian sembilan burung cucak keling, dan lima ekor jalak kebo,” paparnya.
Sementara itu, salah seorang pelaku yang ditangkap dalam penyelundupan itu adalah warga Surabaya berinisial S, karena tidak memiliki dokumen. Sebab, setiap memperdagangkan satwa harus mendapatkan surat kesehatan satwa, serta sertifikat pengambilan darah satwa.
“Pengiriman burung-burung tersebut tidak dilengkapi dokumen karantina atau sertifikat kesehatan dan pelaku penyelundupan melanggar Pasal 31 jo Pasal 6 huruf a dan c Undang-Undang No16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dengan ancaman maksimal 3 tahun penjara,” jelasnya.
(kaltimpost.co.id) | image: (binatangpeliharaan.org)
Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *