background img

Ramai Muslim Menolak Teror Paris Dikaitkan Dengan Islam

5 years ago written by
Demonstran Muslim membakar poster pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, di Mumbai, India. Mereka melakukan aksi solidaritas mengutuk serangan teroris di Paris di Mumbai, India (16 November 2015).
© Divyakant Solanki /EPA

Aksi teror di Paris, Prancis mengakibatkan lebih dari 130 orang meninggal dunia. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas penyerangan itu. Penyerangan dan teror memang kerap dikaitkan dengan sejumlah kelompok Muslim.
Namun, tak sedikit umat Muslim yang menolak aksi tersebut. Salah satunya terlihat di linimasa Twitter, misalnya lewat tagar #NotInMyName.
Melalui tagar itu, umat Muslim menolak bila agama mereka digunakan sebagai landasan untuk melakukan teror. Para Muslim yang mengicaukan tagar itu juga turut mengutuk serangan di Paris.
Topsy mencatat, terhitung sejak aksi teror di Paris, #NotInMyName telah menuai lebih dari 50 ribu kicauan, Selasa (17/11/2015). Sejumlah Muslim yang berprofesi sebagai jurnalis turut mendongkrak popularitasnya.
Jurnalis yang berbasis di Inggris, Shehnaz Khan menjadi salah satu yang mengirim kicauan. “Barangsiapa membunuh orang yang tidak bersalah, maka seolah-olah telah membunuh semua umat manusia,” bunyi kicauan @ShehnazKhan, yang mengutip Al-Qur’an (5:32). Kicauan itu di-retweet lebih dari 180 kali.
Jurnalis Australian Broadcasting Corp (ABC), Tahmina Ansari juga mengirim kicauan yang disambut lebih dari 200 retweet.
“Merasa harus mengatakan #NotInMyName lagi dan lagi. Fakta: orang-orang ini (penyerang) adalah sekelompok pandir dengan persepsi Islam yang terdistorsi,” demikian terjemahan kicauan @TahminaAnsari.
Sehubungan tagar #NotInMyName, CNN mewawancarai Filistin Ayad, seorang feminis Muslim yang berdomisili di Amerika Serikat. Ayad beranggapan bahwa ISIS tidak bisa dilihat sebagai representasi Muslim.
“Saya ingin ada kesepahaman antara Muslim dan non-Muslim, serta munculnya rasa simpati komunal untuk para korban teroris, tapi juga tidak terjebak dalam Islamofobia. Jika kampanye #NotInMyName dapat membantu mengusir Islamofobia dan mengusir ketakutan saya. Itu akan menjadi indah,” kata Ayad.

#NotInMyName: ISIS Do Not Represent British Muslims
© Active Change Foundation

Sekadar informasi, #NotInMyName sudah mulai dikampanyekan sejak September 2014. Saat itu, #NotInMyName menjadi kampanye dari Active Change Foundation, sebuah organisasi non-pemeritah di Inggris yang deretan pegiatnya banyak diisi pemuda Muslim.
#NotInMyName memang dimaksudkan sebagai tandingan atas kampanye ISIS. Sekadar catatan, ISIS memang kerap menggunakan media sosial sebagai kanal untuk menyebarkan ideologi, teror, dan kebencian.
#NotInMyName juga bukan satu-satunya tagar yang disuarakan umat Muslim dalam merespon serangan di Paris. Topsy mencatat, tagar #TerrorismHasNoReligion dan #MuslimsAreNotTerrorist pun turut menguat
Terhitung sejak serangan di Paris, #TerrorismHasNoReligion mencapai lebih dari 53 ribu kicauan. Sementara itu, #MuslimsAreNotTerrorist telah melewati angka lebih dari 211 ribu kicauan, Selasa (17/11).
Catatan lain, di Indonesia juga sempat muncul kampanye media sosial yang ingin menghadirkan wajah Islam nan damai. Misalnya lewat tagar #IslamSenyum, yang sempat dikampanyekan oleh beberapa organisasi (termasuk Jaringan Gusdurian), pada Juni 2015.

Grafik percakapan #NotInMyName, #TerrorismHasNoReligion, dan #MuslimsAreNotTerrorist yang banyak disuarakan umat muslim di linimasa Twitter. 17 November 2015, pukul 11.00 WIB.
Grafik percakapan #NotInMyName, #TerrorismHasNoReligion, dan #MuslimsAreNotTerrorist yang banyak disuarakan umat muslim di linimasa Twitter. 17 November 2015, pukul 11.00 WIB.

 
(beritagar.id)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *