background img

PREMIUM DIHAPUS, DAYA BELI BAKAL TURUN

2 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Rencana pemerintah untuk menghentikan penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium diperkirakan akan memberikan tekanan yang cukup besar pada tingkat daya beli masyarakat.

Pada tahap pertama, pemerintah akan mulai melakukan penghentian penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali mulai 1 Januari 2021 mendatang.

“Yang jelas, dengan penghentian penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium akan berdampak pada kenaikan sejumlah harga-harga barang, karena memang dengan adanya penghapusan premium atau BBM bersubsidi tentu akan mempengaruhi

biaya angkutan,” kata kata Ryan Filbert, Praktisi & Inspirator Investasi Indonesia serta Penulis Puluhan Buku Best Seller Nasional ketika menjadi narasumber di program Sarapan Pagi di Radio KPFM Balikpapan yang dipandu Sherly Kezia dan Elyana Sesil, Rabu (18/11).

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang akan menghapuskan penjualan premium akan berdampak cukup besar terhadap sejumlah sektor yang tentunya akan menimbulkan kenaikan harga dari sejumlah komoditas akibat naiknya biaya operasional.

Dampak kenaikan harga sejumlah komoditas dipastikan akan memberikan tekanan ekonomi kepada masyarakat di tengah situasi pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih berlanjut. Sehingga akan berakibat pada turunnya tingkat daya beli masyarakat, yang juga akan kembali berdampak pada tingkat perekonomian secara nasional

Ia menambahkan, masyarakat harus cermat dalam menentukan pengeluaran khususnya dalam menentukan rencana untuk membeli kendaraan baru, dengan benar-benar mempertimbangkan kemampuan untuk membayar seluruh biaya yang harus ditanggung.

Tidak hanya mempertimbangkan pada kemampuan membayar biaya cicilan, namun juga menyangkut kemampuan menanggung biaya service dan penggantian sparepart, pajak kendaraan serta biaya BBM yang akan terus naik harganya.

“Jadi analogikan, ketika kita membeli kendaraan atau mobil dengan harga Rp 150 juta dan dicicil 5 tahun, kalau dilihat ya murah paling cuma Rp 3 juta. api kalau kita lihat secara teliti, ditambah dengan biaya service, pajak kendaraan dan BBM, kalau kita akumulasi mobil kita itu beroperasi misalnya 1 bulan sampai 10.000 km kalau kita butuh operasional sekitar 6 juta dengan cicilan yang ada,” ujarnya.

Sehingga dalam menentukan diri untuk mengambil cicilan khususnya kendaraan roda empat atau mobil, setiap orang memang harus cermat, bukan hanya melihat pada nilai cicilannya namun juga melihat pada berapa pajak yang harus dikeluarkan setiap tahunnya, biaya sparepart, dan BBM yang harus dibeli,” ungkapnya.

“Karena memang banyak orang yang hanya mampu membayar cicilan tapi tidak sanggup untuk membayar biaya lainnya, tidak bisa kita ketika menentukan untuk mengambil cicilan cuma modal semangat,” ungkapnya.

(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *