background img

PENOLONG HARUS BENAR, JANGAN PANIK

1 month ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Tubuh secara alami sudah memiliki alarm sendiri. Seperti butuh istirahat dan perhatian ekstra. Namun terkadang manusia sering mengabaikan tanda-tanda tersebut. Bahkan beranggapan tidak akan terjadi apa-apa.

Hal ini dipaparkan Koordinator Training Center Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) Muhammad Amril S.Kep NS pada program Interactive Healthy Care radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Senin (14/10).

Menurutnya, kondisi darurat yang harus diwaspadai seperti saat bangun tidur, merasakan pusing dan lemas. “Apalagi sampai terjatuh di kamar mandi. Kalau kondisinya sudah seperti ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Semakin cepat kita tahu penyakit yang ada, semakin cepat diatasi, semakin tinggi tingkat keberhasilan pertolongannya” ujar instruktur bersertifikasi Ambulans Gawat Darurat 118 dan Badan Nasional Sertifikat Profesi ini.

Dikatakan, paradigma di masyarakat saat ini adalah ketakutan saat mengetahui penyakit yang diderita. Kondisi darurat lainnya yang patut diperhatikan adalah tanda-tanda stroke dan serangan jantung.

“Saat berada pada kondisi darurat, pastikan diri kita tidak panik, dan ajak penderita untuk tidak panik dengan cara diajarkan melakukan relaksasi, dengan menarik nafas panjang. Lalu ajak penderita berbicara, untuk mengetahui penderita dalam kondisi sadar atau tidak,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, tanyakan apakah penderita mengalami sesak nafas atau tidak. Bila memungkinkan untuk menjawab, tanyakan apakah ada bagian tubuh yang sakit dan bisakah penderita bangun sendiri.

“Sebagai tindakan pertolongan, tekniknya pun harus diketahui. Seperti contohnya saat muntah, sebaiknya posisi kepala dimiringkan disertai seluruh tubuh sehingga  tidak menambah cedera. Muntah biasanya menyertai penderita yang mengalami jatuh atau benturan di kepala ,” ujar Muhammad Amril yang saat talkshow didampingi Humas Aditya Yorinda.

Dijelaskan, tingkatan darurat dibagi menjadi 4, yakni masuk dalam kategori merah, kuning, hijau dan hitam. Pasien yang mengalami gangguan jalan nafas, pingsan, untuk jatuh yang disertai patah tulang masuk dalam kategori merah. “Angin duduk yang sering disebut oleh orang awam, sebenarnya adalah serangan jantung. Karena itu, nyeri pada dada jangan diabaikan,” katanya mengingatkan.

Ditambahkannya, RSPB juga sudah mulai mengedukasi penanganan gawat darurat pada sekolah melalui Palang Merah Remaja dan kader posyandu sejak tahun 2016. Dan risiko ketidakberhasilan pertolongan ternyata turun hingga 70 persen bila dibanding sebelum tahun 2015.

Rencananya, pertengahan November nanti RSPB juga akan mengadakan pelatihan untuk masyarakat umum. Menutup obrolan, Amril mengatakan, untuk orang-orang yang memiliki manula dan anak-anak, sebaiknya mengetahui cara atau teknik untuk pertolongan pertama. Karena anak-anak memiliki organ yang belum sempurna. Sedangkan manula sudah mengalami penurunan organ, sehingga penanganannya berbeda dengan usia produktif. “Sebagai penolong, usahakan tidak panik dan tenangkan penderita. Teknik menolong pun harus benar, sehingga penderita tertolong, bukan justru menambah kecacatan,” imbuhnya.

Untuk keadaan darurat, silahkan hubungi IGD RSPB 0542-422500. Nanti petugas yang akan memandu melalui telefon. (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *