background img

New Album : The Temper Trap – Thick As Thieves

4 years ago written by

 
thetemp_thickas_coverar_3000dpi300rgb1000184825
Thick as Thieves” menandakan album pertama band rock asal Australia, The Temper Trap, tanpa kehadiran sang gitaris Lorenzo Sillitto yang keluar di tahun 2013. Tanpa ada penambahan personel baru, maka sang kibordis Joseph Greer harus berperan ganda, dengan mengisi departemen gitar pula. Namun, untuk band dengan jam terbang cukup tinggi seperti The Temper Trap hal seperti ini bukan menjadi masalah berarti, karena dalam “Thick as Thieves” nyaris tidak terdengar perbedaan dalam musikalitas yang mereka usung sebagaimana dua album sebelumnya.
Semenjak album “Conditions” (2009) dan kemudian disusul dengan “The Temper Trap” (2012), band ini senantiasa percaya dengan kuatan rock berpadu dengan synth-pop mereka. Variasi antara U2 atau The Killer namun tetap terdengar khas dan berbeda, yang keutamaanya tentu adalah pada vokal perkasa Dougy Mandagi. Pria berdarah Manado ini memang memiliki warna dan motif vokal dengan karakteritik tegas sehingga mencolok dan gampang diidentifikasi.
Kekuatan lain dari The Temper Trap adalah pemilihan lagu rock yang tidak berisik di telinga, mengantarkan melodi manis gampang dicerna untuk semua kalangan pendengar. Mungkin lagu-lagu “radio friendly” mereka akan mendapat tanggapan sinis dari para puritan rock. Hanya saja dengan materi kuat yang mereka persembahkan, rasanya sulit untuk ditolak.
Sebagaimana album-album sebelumnya, “Thick as Thieves” adalah sebuah pengalaman mendengarkan musik yang menyenangkan. Bukan hanya lagu-lagu up-tempo seperti ‘Burn’, ‘Alive’, ‘Riverina’ atau ‘Tombstone’ yang enerjik dan dipastikan akan membakar semangat saat disimak, tapi The Temper Trap adalah jaminan sebuah melankolia dan romantisme.
Baiklah. ‘Sweet Disposition’ mungkin telah mengukuhkan nama mereka sebagai band rock romantis, tapi The Temper Trap bukan one-hit-wonder dan kemudian kewalahan untuk mengulang formula yang sama. Berbicara tentang formula, tentu saja The Temper Trap masih menggodok materi mereka tidak jauh-jauh dari ‘Sweet Disposition’, hanya saja mereka tangkas agar lagu-lagu setelahnya terdengar berbeda tanpa benar-benar bergerak jauh dari pendekatan yang sudah terbukti sukses tersebut.
Bukti nyatanya terpampang nyata dalam “Thick as Thieves”. The Temper Trap sepertinya ingin agar album ini lebin kental dengan lagu-lagu mid-tempo dan melankolis, meski tetap menekankan pada intensitas ala rock. Mendengarkan ‘What If I’m Wrong’, dimana Mandagi bernyanyi dengan berbisik dan mengandalkan falsetto, kita seolah tersedot dalam pusaran emosi lagunya. Sontak sensasi sendu pun menyerubungi diri saat mendengarkan lagunya.
Itu satu contoh saja. Karena “Thick as Thieves” punya banyak materi yang dipastikan akan membuai pendengaran. Dalam konteks rock tentu saja, bukan pop sendu. Nuansa anthemik seperti dalam ‘So Much Sky’ atau ‘Fall Together’ tidak hanya akan membangkitkan semangat saat mendengarnya, namun juga mengharu-biru.
Salah satu track terbaik dalam album ini, ‘Lost’, juga menjadi contoh sempurna bagaimana sebenarnya sosok The Temper Trap. Ketukan drum yang bersemangat, gitar yang nyaris tanpa riff tapi terasa menghantui dan nyanyian Mandagi yang menghanyutkan adalah formula itu. Terlepas dari bagaimana notasi yang ditawarkan lagu-lagu The Temper Trap.
Berbicara tentang track terbaik, sebenarnya akan sulit untuk mencari juaranya karena “Thick as Thieves” diisi oleh barisan track terbaik yang bisa mereka tawarkan. Jadi, nikmati saja dan biarkan The Temper Trap menjadi teman di kala luka, lara atau bahagia, karena mereka dapat menjadi “soundtrack” yang diandalkan dalam rangkaian emosi kehidupan kita.
 
sumber : creativedisc.com
 

Article Categories:
Music

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *