background img

NELAYAN MANGGAR SELAMATKAN 11 ABK NTB

1 year ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Sebanyak 11 Anak Buah Kapal (ABK) asal Nusa Tenggara Barat (NTB)  menjadi perbincangan warganet Kota Balikpapan. Pasalnya, mereka baru saja mengalami kejadian dramatis yang nyaris merenggut nyawa. Itu setelah kapal yang mereka tumpangi, yakni KM Aviat Samudra 181 tenggelam dihantam ombak tinggi di Pulau Sakalang, tepatnya di Selat Madura.

Peristiwa mengenaskan tersebut terjadi pada, Jumat (2/8) lalu. Akibatnya, mereka terombang-ambing selama kurang lebih 12 jam di lautan lepas, sebelum diselamatkan seorang nelayan asal Manggar, Balikpapan Timur (Baltim) pada, Sabtu dini hari (3/8).

“Hari Sabtu itu saya mau melaut, tapi karena kondisi cuaca sedang buruk, akhirnya saya memutuskan untuk kembali. Namun dalam perjalanan saya melihat semacam ada sinar cahaya pertanda orang membutuhkan bantuan,” kata M. Bahar (54), nelayan asal Manggar, Balikpapan Timur, Senin (5/8).

Saat ditemukan, lanjut Bahar, para ABK tersebut dalam kondisi menggigil di atas rakit. Lantaran kedinginan akibat dibasahi air laut serta angin kencang. Ditambah lagi kala itu hari sudah larut malam. “Saat itu mereka sedang berada di atas rakit. Pada menggigil semua karena basah,” ujar Bahar.

Sebelumnya, Bahar mengaku sempat ragu untuk mendekati rakit para ABK tersebut. “Saya takut kalau orang jahat. Tetapi setelah diberikan kode baru saya mendekat. Kemudian saya bertanya kepada mereka. Ada benda tajam atau tidak? Dan mereka bilang tidak ada,” cerita Bahar.

Setelah dinaikan ke atas kapal, Bahar membawa 11 ABK tersebut menuju Balikpapan. Menempuh perjalanan selama dua hari dari lokasi tenggelam. Mereka pun tiba di Pantai Manggar Balikpapan pada, Senin (5/8) sekira pukul 00.15 wita.

Setelah tiba di Balikpapan, 11 ABK itu tidak langsung dibawa ke rumah sakit, namun bermalam di rumah warga Manggar. Senin pagi sekitar pukul 09.00 Wita, barulah mereka dibawa ke Puskesmas Manggar Baru untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

Selama kurang lebih enam jam mereka diperiksa tim dokter Puskesmas Manggar Baru dan diketahui hanya mengalami keluhan mual dan kedinginan. “Mereka sudah kami cek kesehatannya satu persatu bersama dokter. Hasilnya tidak ada yang serius. Mereka mengeluhkan mual dan kedinginan saja,” kata Kepala Puskesmas Manggar Baru, dr. Kurnia Nente, Senin (5/8).

Sebelumnya, lanjut Kurnia, pada pukul 07.30 Wita Puskesmas Manggar Baru mendapatkan laporan dari Basarnas jika terdapat 10 ABK dan satu nakhoda membutuhkan pertolongan.  “Kami dapat laporan dari Basarnas. Langsung  minta dua unit ambulan ke rumah warga di Manggar dan membawa ke Puskesmas untuk segera ditangani,” ujarnya.

Usai pemeriksaan, 11 ABK tersebut diserahkan kepada Dinas Sosial (Dinsos) untuk mendapatkan perawatan menginap serta dikembalikan ke daerah asal mereka di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Kami sudah kordinasi dengan Dinsos untuk penanganan lanjutan. Mungkin akan diinapkan dulu kemudian baru dipulangkan ke daerah asalnya NTB,” ucapnya.

Untuk diketahui, KM Aviat Samudra 181 tersebut berangkat dari Bima, NTB dengan membawa 220 ton garam serta 85 ton bawang merah menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Namun saat pelayaran memasuki perairan Selat Madura, tiba-tiba kapal kayu tersebut dihantam ombak setinggi kurang lebih lima meter dan mengakibatkan kapal mereka terbalik di Pulau Sakalang, berjarak 50 mil dari arah Timur.

Nakhoda KM Aviat Samudra, Abdin (43) menceritakan setelah dihantam ombak, kapal yang ia kemudikan itu mengalami patah as di tengah laut. Sehingga kondisi kapal tidak bisa dikendalikan. Keadaan itu diperparah lagi dengan cuaca buruk.

“Kapal kami tenggelam hari Jumat sekitar pukul 09.00 Wita.  Kami bertahan di atas kanopi selama 12 jam. Kami ditemukan oleh nelayan Balikpapan malam Sabtu,” cerita Abdin.

Saat itu, lanjutnya, kondisi fisik seluruh ABK sedang tidak membaik. Karena kedinginan dan juga kelaparan. Untuk bertahan hidup, mereka pun makan mie mentah dan minum air laut. “Kami makan mie dan minum air laut agar bisa bertahan dan berharap segera datang pertolongan. Alhamdulillah kami tertolong oleh nelayan,” akunya.

Ia menambahkan sesaat setelah kejadian, sempat melakukan upaya penyelamatan kapal dengan cara menyedot air yang masuk ke dalam kapal menggunakan mesin Alcon. Namun upaya tersebut tidak berhasil lantaran air lebih cepat masuk daripada keluarnya.

“Kami sempat menyedot air dengan mesin Alcon. Enam buah mesin kami nyalakan semua, tetapi air lebih cepat masuknya sehingga kami kalah dan tenggelam,” tandasnya. (FREDY JANU/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *