background img

JIKA LAMBAT, STUNTING TAK BISA SEMBUH

1 year ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Mungkin masih ada yang asing dengan istilah stunting. Adalah kondisi anak yang tinggi badannya lebih pendek dibanding anak seusianya. Ini karena kekurangan gizi dan nutrisi yang mengakibatkan terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting tak bisa disembuhkan jika sudah terlambat.

Stunting ini dibahas dr Silvia Meiliana. MSc, SpA pada program Karir dan Keluarga radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Selasa (23/7). Bincang dengan dokter spesialis anak ini dipandu announcer Elyana Sesil.

“Stunting itu anak yang pendek. Tetapi anak yang pendek belum tentu stunting. Jadi stunting ini sendiri bisa dilihat dari faktor genetik, nutrisi dan gizi, serta lingkungan anak itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Silvia, stunting bisa dicegah mulai dari usia anak 0 bulan hingga 2 tahun, karena itu adalah tingkat pertama atau seribu hari perkembangan anak yang harus dijaga asupan makanannya.

Dokter yang juga praktik di RS Siloam Balikpapan ini menambahkan, ASI eksklusif pada bayi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak ke depannya. Anak yang stunting akan mudah sakit karena lemahnya sistem kekebalan tubuhnya. Susah untuk menerima pelajaran, mudah lelah dan memiliki risiko terkena penyakit kronis, seperti diabetes, bahkan kanker.

“Selain ASI eksklusif, hal yang harus diperhatikan adalah menu makanan pendamping ASI (MPASI). Sudah tidak lagi menu tunggal, tetapi menu empat bintang. Ini juga bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak agar mau mengonsumsi makanan sehat, bukan makanan yang instan,” ucap dokter cantik yang juga anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Kaltim.

Ia mengingatkan, anak yang stunting tidak bisa disembuhkan jika terlambat intervensi. Usia 19 tahun adalah usia maksimal. Di zaman milenial saat ini banyak cara untuk mencegah terjadinya stunting pada anak. Salah satunya rutin memeriksakan kondisi anak terutama di 3 tahun pertama kehidupannya, yang wajib diberikan imunisasi agar tubuhnya kebal terhadap segala jenis penyakit. “Buku Pink bisa menjadi acuan agar orang tua bisa memantau kondisi anak terlebih dari tinggi dan berat badannya,” tambahnya.

Di akhir perbincangan Silvia menambahkan, melindungi hak anak dan remaja untuk membentuk generasi muda yang tangguh adalah tema di Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2019.

“Sesuai dengan tema Hari Anak Nasional tahun ini, kami dari IDAI ingin mengampanyekan agar anak Indonesia bebas dari stunting, supaya tumbuh menjadi generasi muda yang tangguh. Karena jika anak sudah terkena stunting, tingkat kepercayaan dirinya akan turun, serta kesehatannya pun mudah turun,” pungkasnya. (SESIL/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *