background img

JAM MALAM DINILAI TAK EFEKTIF

1 month ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Penerapan jam malam yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Balikpapan dinilai kurang efektif dalam mencegah potensi penyebaran virus Corona.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Balikpapan (Uniba) Rendy Ismail ketika menjadi narasumber dalam special talkshow di program Sarapan Pagi radio KPFM 95,4 Mhz Balikpapan yang dipandu Sherly Kezia, Senin (21/9).

Menurut Rendy, belajar dari pengalaman yang telah dilakukan sejumlah daerah, seharusnya Pemerintah Kota Balikpapan lebih memilih untuk menerapkan strategi pengetatan sosial secara kecil untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di sejumlah wilayah, dibandingkan penerapan jam malam.

“Saya melihat sangat tidak efektif. Akan jauh lebih efektif diterapkan di pengetatan sosial berskala kecil dengan memberdayakan RT. Kalau perlu RTnya itu diberikan insentif untuk mengamati warganya apabila ada yang terpapar, juga ditugasi untuk mengingatkan warganya berkaitan dengan pentingnya kita mencegah penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Kebijakan untuk menerapkan jam malam tersebut, menurutnya, harus dievaluasi kembali agar lebih efektif dalam mencegah penyebaran virus Corona, sehingga tidak seperti kebijakan sebelumnya yakni penutupan sejumlah ruas jalan di masa awal pandemi Covid-19 yang juga tidak efektif dalam mencegah kerumunan masyarakat.

“Kayak kemarin itu, penutupan beberapa ruas jalan itu sangat tidak efektif. Karena ketika jalan protokol ditutup, mereka (pengendara) masuk lewat jalan tikus dan jalan tersebut menjadi padat, dan itu berlaku berbulan-bulan,” ungkapnya.

Di masa pandemi Covid-19 ini, ia meminta kepada pemerintah daerah agar mampu mendorong sejumlah kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Dengan menciptakan sejumlah sektor usaha yang tidak tergantung pada hasil kepada sektor migas, dan penunjangnya, serta sektor tambang. Sehingga tetap mampu bertahan dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

“Bagaimana kita punya kemampuan memutus ketergantungan kita kepada sektor migas dan penunjangnya, serta sektor tambang. Karena hampir 90 persen ekonomi yang ada di Kota Balikpapan ini tergantung pada dua sektor tersebut, sehingga ketika dua sektor itu mengalami situasi sulit, kita juga mengalami kesulitan dan sekarang terasa sekali,” ungkapnya.

Ia meminta kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan dapat kembali mendorong sejumlah program untuk menumbuhkan kembali perekonomian di Kota Balikpapan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang telah ditetapkan.

“Saya kira mungkin para pengambil keputusan harusnya nggak usah malu-malu, atau tidak punya gagasan, tidak punya ide yang yang original dan kemudian dianggap tidak punya visi. Kita buka saja itu rencana strategi membangun yang sudah disusun oleh pemimpin kita di masa-masa yang lalu, kemudian itu dievaluasi, kemudian diidentifikasi untuk menentukan apa yang menjadi skala prioritas pembangunan,” urainya.

Selain itu, diperlukan komitmen dari pemerintah untuk memproduksi SDM yang berkualitas dan memiliki kemampuan daya saing yang tinggi, sehingga dapat berkontribusi dalam membangun infrastruktur Kalimantan yang dikenal sebagai daerah kaya akan sumber daya alam yang melimpah.

“Semangat itulah yang kemudian memotivasi saya untuk menghadirkan Uniba, sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang bisa memberi jawaban atas keraguan banyak pihak, terkait dengan penyelenggaraan maupun pengelolaan bidang pendidikan,” jelasnya.(MAULANA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *