background img

EVAKUASI MEDIS RSPB MENYIAPKAN FASILITAS UNGGULAN

2 weeks ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 882/Menkes/SK/X/2009 tentang pedoman penanganan evakuasi medik, kegawatdaruratan, adalah kondisi di mana seseorang berada pada kondisi ancaman kematian dan memerlukan pertolongan segera, guna menghindari kematian dan kecacatan.

Keadaan ini dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan menimpa siapa saja. “Bahasa sederhananya adalah, serangkaian tindakan pemindahan pasien dari suatu tempat ke tempat lain dengan fasilitas dan SDM yang lebih memadai sesuai dengan kebutuhan pasien. Dengan catatan pasien layak dievakuasi,” ungkap Pengawas Evakuasi Medis Bambang Sujatmiko, S.Kep pada program Interactive Healthy Care (IHC) bersama Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) di radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Senin (13/01). Talkshow siang dengan tema Mengenal Evakuasi Medis itu dipandu Jessica Vathur.

Bambang Sujatmiko didampingi Humas RSPB Aditya Yorinda mengatakan, harus dibedakan antara rujukan dan evakuasi. Rujukan biasanya antar rumah sakit pada kota atau pulau yang sama. Sedangkan evakuasi antar provinsi , atau pulau. Atau antar negara.

Untuk itu, lanjutnya, sebagai memiliki STR atau  Surat Tanda Registrasi sebagai tenaga medis, juga dilengkapi dengan paspor. “Ini bila sewaktu-waktu mendampingi pasien malakukan evakuasi antar negara,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagai sarana transportasi darat, ambulans terdiri dari ambulans transport dan ambulans gadar atau gawat darurat. Perbedaannya, ambulans gadar dilengkapi peralatan medis atau ICU berjalan, serta dilengkapi perawat atau dokter. Sedangkan untuk ambulans transport biasanya hanya standart ambulance saja serta emergency bag dan dipergunakan untuk pasien dengan  ABC Clear (Airway-Breathing-Circulation).

Bambang mengatakan, saat menjemput pasien dengan kondisi darurat, ambulans boleh menyalakan sirine dengan mode hi-lo. Sedangkan saat membawa pasien dengan petugas medis, rotary ambulans yang berwarna merah saja yang dinyalakan. Tetap mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang ada.

“Dengan kecepatan ambulans tertentu, petugas medis tetap bisa melakukan pertolongan. Sedangkan dengan kecepatan tinggi tentu saja petugas medis, dalam hal ini perawat atau dokter, tidak dapat melakukan pertolongan,” ujarnya.

Inilah kenapa sebagai driver atau pengemudi harus mentaati peraturan yang ada , termasuk oleh keluarga pasien ya

“Sebagai pengemudi kami juga memiliki standard seperti memiliki kemampuan untuk basic life support atau Hidup Dasar,” katanya.

Kini RSPB sudah memiliki layanan evakuasi jenasah. Layanan ini bukan baru, karena dulu RSPB sudah pernah melakukannya hanya belum banyak masyarakat yang tahu.

Silahkan menghubungi 0542-422500 untuk mengetahui lebih detail. Dalam waktu dekat RSPB juga akan memiliki alarm center dan radio medic yang saat ini masih dalam pengerjaan team.   (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *