background img

EKONOMI DIPREDIKSI PULIH 2023

4 days ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menerapkan kembali PSBB jilid dua mendapatkan respon positif dari IHSB (Indeks Harga Saham Gabungan).

IHSB menutup perdagangan awal pekan, Senin (14/9) di zona hijau dengan penguatan mencapai 2,89% di level 5.161.

Menurut Praktisi dan Inspirator Investasi Indonesia Ryan Filbert yang juga penulis puluhan buku best seller nasional, pelaksanaan PSBB jilid dua yang kembali diterapkan di Jakarta sejak tanggal 14 September 2020 sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap kondisi pola kehidupan masyarakat.

“Pelaksanaan PSBB jilid 2 yang terjadi di Jakarta tidak mencekam seperti yang terjadi pada jilid 1 di bulan Maret dan April lalu, aktivitas masyarakat di beberapa ruas jalan juga masih padat tidak berbeda. Jadi kalau dibilang ada asumsi yang mengatakan bahwa ada penurunan sekitar 25 persen, hal itu perlu diperhitungkan kembali kebenaran,” ujar Ryan Filbert saat bincang di program Sarapan Pagi radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Rabu (16/9).

Kondisi disebabkan oleh sebagian masyarakat termasuk perusahaan sudah melakukan penyesuaian diri ketika memasuki fase normal, dengan menyesuaikan aktivitas termasuk jam kerja pegawai.

“Jadi lebih parah jilid 1 daripada jilid 2. Perubahan yang terjadi juga tidak begitu banyak, karena memang sebagian besar kantor sudah melakukan penyesuaian diri dengan kebijakan aturan baru dalam fase yang normal,” jelasnya.

Terkait adanya penguatan IHSG hingga mencapai 3 persen sejak diberlakukannya PSBB jilid dua, belum dapat menjadi indikator dalam menentukan proyeksi terhadap IHSG yang diasumsikan akan menembus angka level 6000 pada kuartal keempat tahun 2020 nanti.

“Kita juga harus melihat berapa jumlah penurunan yang terjadi selama masa pandemi Covid-19, jadi dalam menentukan investasi kita tidak boleh bersifat spekulatif dan mengikuti pada euforia yang terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, dalam melihat peluang investasi itu tidak bisa melihat pada sebagian pada kabar baik yang terjadi yang kemudian menjadi euforia.

Ia menjelaskan, melihat pada kondisi perekonomian saat ini, bahwa ancaman resesi ekonomi pada kuartal ketiga ini akan tetap terjadi akibat kebijakan pembatasan yang dilakukan oleh sejumlah daerah, yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Saya perkirakan akan tetap terjadi resesi di atas kertas, namun hal itu hanya terjadi kepada negara, dan masyarakat dalam pengembangannya tetap tidak ada pengaruhnya. Sehingga kita harus tetap mendukung pemerintah dalam menghadapi resesi ini dengan tetap berpendapatan dan tetap melakukan pengeluaran,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data statistik yang ia miliki, bahwa Indonesia baru akan pulih mulai kembali dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada awal tahun 2023 mendatang. Sehingga masyarakat harus siap dalam menentukan investasi dalam jangka waktu yang cukup panjang.

“Kalau mau investasi harus cukup lama, dua sampai 3 tahun lagi. Karena waktu untuk bisa recovery ekonomi itu dua sampai tiga kali lipat dari waktu penurunan dari puncak awal,” tambahnya.(MAULANA/KFPM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *