background img

DPRD GELAR FGD SOAL PARKIR KM 5,5

1 year ago written by

BALIKPAPAN – Untuk mengurangi kasus lakalantas dan kemacetan di jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan Utara, DPRD Balikpapan bersama Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menggelar Forum Group Discussion (FGD), Hotel Novotel Balikpapan, Kamis (27/6). FGD membahas tentang kajian akademik Pengembangan Parkir Kendaraan Roda Empat ke Atas di jalan Soekarno-Hatta Km 5,5.

Kajian ini terkait dengan terbatasnya lahan parkir untuk menampung mobil roda empat ke atas, sehingga banyak memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat parkir, akibatnya kerap mengganggu pejalan kaki dan pengendara lainnya.

Iman Santoso dari Universitas Gajah Mada mengatakan, pihaknya telah melakukan peninjauan di jalan Soekarno-Hatta Km 5,5. Menurutnya, pembangunan tempat parkir harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan, mengingat masing-masing kecamatan memiliki karakteristik wilayah berbeda-beda.

“Ke depan yang menjadi persoalan di Balikpapan adalah sektor transportasi, mengingat jumlah kendaraan terus bertambah,” katanya.

Untuk itu, ia menyarankan kepada Pemkot Balikpapan agar tegas terhadap kendaraan berukuran besar yang parkir di bahu jalan.

“Selain itu kendaraan alat berat perlu dipindahkan karena bisa merusak badan jalan, dan rawan terjadi kecelakaan lalulintas (lakalantas),” pintanya.

Hal senada diungkapkan Adi Anto dari UGM. Ia menilai perkembangan kota akan dibarengi dengan meningkatnya jumlah alat berat.

“Saya kira kinerja Dishub perlu ditingkatkan lagi. Khususnya menindak tegas kendaraan alat berat dan kendaraan lainnya yang parkir di bahu jalan, karena merusak infrastruktur jalan. Untuk itu, mulai dipikirkan sekarang ini mengenai pembangunan tempat parkir khusus kendaraan roda empat keatas,” usulnya.

Sementara Ketua Komisi I DPRD Balikpapan Faisal Tola mengatakan, 98 persen kebutuhan bahan pokok di Balikpapan berasal dari luar pulau seperti Jawa dan Sulawesi. Untuk itu perlu adanya perubahan lokasi penurunan muatan dari kapal feri, jika selama ini feri masih menggunakan pelabuhan Semayang untuk bongkar muat, maka sudah seharusnya dipindahkan di kawasan Kilo 13.

“Setidaknya dengan adanya pemindahan pelabuhan khusus feri, akan mengurangi truk bertonase besar melintas diturunan rapak, yang juga menghindari lakalantas di kawasan tersebut,” ujar Faisal Tola.

“Selain itu juga untuk membuka kawasan baru di wilayah utara kota Balikpapan yang memang sesuai dengan RTRW akan menjadi kawasan industri dan perdagangan,” pungkas Politikus Partai Golkar ini. (D/Kpfm)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *