background img

CERITA ODHIV (1) : HILANG PEKERJAAN DAN BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI

2 months ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Senyumannya ramah. Wajahnya juga selalu tampak ceria, tak penah menyiratkan kesedihan. Padahal virus berbahaya telah menjalar dalam tubuhnya.

Bagus –bukan nama sebenarnya–, berusia 32 tahun. Ia adalah Orang Dengan HIV atau sering dikenal dengan sebutan ODHIV.

Dia selalu minum ARV (Anti Retro Viral), obat untuk HIV sesuai dosis. Tidak pernah lupa, tepat waktu, dan tidak pernah putus.

ARV adalah obat yang bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV. Menggandakan diri dan mencegah HIV, menghancurkan sel CD4 atau sel darah putih sebagai penjaga imun tubuh.

Masih segar dalam ingatan Bagus saat kali pertama menerima vonis positif HIV. Tepatnya pada pertengahan tahun 2019 lalu. Kala itu, gejala awal yang timbul adalah demam menetap, batuk kering terus menerus, hingga diare yang lumayan panjang.

“Awal sekali terasa sakit, diare lumayan panjang. Itu mulai dari akhir tahun 2018. Kurang lebih enam bulan. Jadi, diagnosis pertama diare,” kata Bagus saat ditemui KPFM, Selasa (1/12).

Karena tak kunjung sembuh dan merasa ada yang aneh dengan penyakitnya, Bagus berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beriman.

Tepatnya pada 18 Mei 2019.

Bagus menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dari keluhan yang disampaikan, dokter langsung melakukan pemeriksaan darah secara lengkap. Hasilnya ada indikasi mengarah ke HIV.

Dari indikasi tersebut, bagus pun disarankan oleh dokter untuk mengecek darah di salah satu rumah sakit atau Puskesmas di Kota Balikpapan yang bisa melakukan pemeriksaan khusus terhadap HIV.

“Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 21 Mei 2019 saya periksa ke salah satu Puskesmas. Setelah itu keluar hasilnya, dan saat itu juga di pertengahan tahun 2019 saya dinyatakan positif HIV,” ujarnya.

Mengetahui dirinya benar-benar positif HIV, tentulah membuat Bagus merasa terpuruk. Bahkan Ia tidak berani langsung mengabarkan hal ini kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Jangankan berpikir soal penerimaan dari orang tua, pada saat itu, Bagus sendiri pun masih sulit menerima kenyataan bahwa dirinya positif HIV.

“Secara pribadi saya belum juga terbuka dengan keluarga. Saya khawatir dengan kesehatan orang tua, ayah ibu saya. Takutya langsung syok. Tapi ada rencana, nunggu waktu yang tepat. Jadi untuk saat ini saya hanya beritahu dengan beberapa teman Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) saja,” akunya.

Meski sempat depresi setelah mengetahui dirinya benar-benar positif HIV, pada akhirnya pria berkulit putih ini pun tetap mengambil pilihan yang logis, yakni mulai melakukan pengobatan. Ia juga berusaha untuk menjalani kehidupan normal.
Namun di tengah masa-masa pengobatan itu, muncul pandemi Covid-19. Memperburuk keadaan. Perekonomian anjlok. Semua sektor atau kelompok merasakan dampaknya. Tak terkecuali bagi mereka yang penderita HIV.

Bagus pun bercerita kesulitan yang dihadapinya selama pandemi Corona. Ia mengaku belum pernah menerima bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah. Bagus berharap pemerintah bisa menaruh perhatian juga kepada warga dengan kondisi seperti dirinya.

“Mungkin kesulitannya bantuan. Saya enggak tahu pemerintah apakah secara spesifik ada memberikan bantuan dengan kami yang secara spesifik pula, atau memang saya yang enggak dapat infomasinya,” akunya.

Kesulitan lainnya adalah konsultasi dengan dokter khusus yang menangani penderita HIV. Sebab ada beberapa rumah sakit dan juga Puskesmas yang tidak 24 jam memberikan pelayanan.

“Tapi, kebetulan saya konsultasinya di Puskesmas. Saya interaksi dengan dokter melalui daring. Via WahatsApp. Kadang saya konsultasi, misalnya saya mau ketemu. Saya tanya dulu waktunya ada apa enggak,” ungkapnya.

Untuk masalah obat, Bagus mengaku selama pandemi Covid-19 ini cukup lancar. Hanya sempat takut dengan adanya isu kesehatan yang sedikit berkurang bantuan dari pemerintah.

“Kemarin juga jadi ketakutan kami. Karena memang harga obatnya kan tidak murah. Meskipun jatuhnya sudah generik. Tapi untuk yang saya rasa selama terapi satu tahun ini cukup, enggak ada kendala,” tuturnya.

Namun dampak yang paling terasa oleh Bagus ada dari segi finansial. Pada pertengahan 2020 ini, ia harus kehilangan pendapatannya. Kontak kerjanya bersama pihak perusahaan diputus. Dengan alasan efisiensi.

“Kebetulan kemarin saya juga pas pertengahan tahun 2020 ini habis kontrak, jadi dampak secara pribadi sebagai ODHIV terasa sekali. Di samping belum terbuka dengan keluarga, saya harus berjuang sendiri. Meskipun teman-teman KDS atau dokter rumah sakit dan Puskesmas itu paham, tapikan enggak secara finansial atau yang lain. Mereka suport kami sebagai ODHIV,” ucapnya.

Mengatasi kondisi tersebut, Bagus mengaku selalu berpikir positif. Dengan harapan kesehatannya tidak menurun. Apalagi yang diserang pada penderita HIV adalah sistem kekebalan tubuh.

“Jadi saya harus berpikiran positif. Meskipun kadang juga berfikiran positif membuat saya suntuk. Itu bisa berpengaruh ke asam lambung saya dan biasanya akan pengaruh dengan yang lainnya. Makanya saya kadang konsultasi dengan dokter, juga dikasih obat untuk menunjang itu,” lanjutnya.

Bagus melanjutkan, setelah tidak bekerja dirinya berpikir keras dan cepat. Bagaimana harus mengatur keuangan. Dia sudah memperhitungkan, keuangannya hanya bertahan hingga Desember 2020 ini. Bagus pun mencoba keberuntungan dengan keahlian yang dimiliki. Yakni memasak.

“Jadi, kebetulah saya suka masak. Khusnya buat kue. Dan saya coba julan kue kemarin di bulan Agustus. Tapi sempat terputus di bulan November, karena saya konsentrasi yang lain. Belum jalani lagi. Saya coba bertahan denga finansial yang ada,” ucapnya.

Meski dihadapkan dengan kondisi sulit, Bagus berusaha untuk selalu tegar. Ada pun yang membuat ia selalu kuat adalah prinsipnya. Harus bisa berdamai dengan diri kita sendiri, juga dengan teman baru yang hidup dalam tubuhnya, yakni HIV.

“Teman-teman dari KDS yang saya kenal serta pihak Puskesmas khusnya dokter, itu juga yang bisa membuat saya semangat. Dan rencana ke depan di tahun 2021 saya akan melanjutkan usaha yang kemarin sempat tertunda,” tutupnya.

Fredy Janu/Kpfm

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *