background img

BIMA: TAK ADA GUNUNG LEBIH TINGGI DARI DENGKUL

4 years ago written by

KPFM BALIKPAPAN – Tampang maskulin, paras lumayan tampan. Jiwanya pemberani, dan fisiknya tangguh. Sekiranya begitulah bila menggambarkan sosok Bima Prasena.

Alumnus SMAN 1 Balikpapan dan lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini adalah climber and explorer yang tergabung dalam Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri sejak tahun 2005.

Pegiat petualangan alam bebas ini telah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan ekspedisi gunung, hutan, dan panjat tebing sejak tahun 2006. Seperti Ekspedisi Bukit Barisan, Sumatera pada 2011, Ekspedisi Tondoyan, Kalimantan Timur (2012), Ekspedisi Mt. Lobuche, East Himalaya, Nepal (2013), dan Ekspedisi Ilas Merah, Kalimantan Timur (2014).

“Indonesia tuh lengkap banget, indah sekali. Sebenarnya bumi pada dasarnya indah. Kalau kita sebagai manusia bilang indah, berarti apa yang kita taruh di alam itu bisa menyesuaikan nggak dengan alamnya,” ujar Bima.

Menurut pengamatannya, selama ini kadang ada yang kurang di sini, kurang di situ. Ada sesuatu yang kotor justru merusak alam itu sendiri.

“Saya nggak mau compare, tapi menurut pengalaman ada di beberapa tempat yang dilakukan manusia justru lebih memperindah alam itu sendiri. Bukan cuma dompleng keindahan alam saja. Itu keinginan saya agar Indonesia bisa seperti ini. Padahal Indonesia itu punya beragam suku dan kebudayaan ribuan tahun sampai sekarang,“ kata Bima Prasena di segmen Good Friend Story program Golden Hits Romantic 95,4 Mhz Balikpapan, Jumat (28/9).

Berikut ini cuplikan perbincangan Bima Prasena bersama duet penyiar Bima Mahardika dan Sherly Kezia, yang dipancarkan langsung dari studio KPFM 95,4 Mhz.

Apa yang membuat Bima merasa gelisah dengan fenomena alam yang terjadi atau untuk anak cucu kita?

Sebenarnya kita sekarang sudah mulai sih. Bersyukur, mereka yang generasi di atas saya sudah memperkenalkan alam ke generasi zaman now. Ini merupakan langkah yang bagus banget, cuma kalau kita tilik lagi beberapa tahun ke depan setelah anak-anak itu sudah punya pengetahuan dan dewasa, apakah pengetahuan mereka itu bisa diaplikasikan atau tidak?

Contoh waktu saya ke Danau Sentarum, ada seorang bapak yang usianya sudah 70 tahun melakukan adat istiadat. Tapi sayangnya hanya beliau saja yang bisa melakukan itu tanpa diwariskan ke anak cucunya.

Menurut Bima bagaimana sejauh ini peran pemerintah melihat beragam suku yang ternyata kalau dieksplor lebih dalam lagi dan ternyata justru banyak hal menarik?

Saya kira kalau di tahun ini justru peningkatan pemerintah dalam menggapai orang-orang di pedalaman itu sudah cukup baik, karena ada beberapa hal yang sudah bisa mereka pamerkan di depan umum tentang hal -hal yang ada di suku pedalaman, yang tiba – tiba saya belum. Ternyata mereka sudah bisa melakukan itu. Saya kira sudah bagus banget. Mungkin waktunya baru bisa sekarang, ya nggak apa-apa, tapi mungkin bisa kita tingkatkan. Bisa kita lari cepat untuk pressure itu semua, dan mudah -mudahan bisa kita turunkan lagi ke anak cucu kita.

Dari rangkaian perjalanan panjang Bima sampai sejauh ini kalau dirangkum dalam sebuah kalimat  seperti apa?

Kalau di organisasi Wanadri kita sering menyebut idiom; jangan menyerah; no mountain higher, than your; tak ada dengkul) (SHERLY/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Leave a Comment

Your email address will not be published.