background img

AIDS BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA

4 years ago written by

Balikpapan – Penampilannya tak beda dengan wanita produktif pada umumnya. Ibu beranak tiga ini tampak sehat dan bugar, tak tercermin ia sedang dalam perawatan khusus. Dialah Susi (bukan nama sebenarnya), seorang ODHA (Orang Dalam HIV AIDS) yang dihadirkan pada talkshow Antistigma dan Deskriminasi terhadap penderita HIV AIDS di Lantai 4 gedung Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Balikpapan, Kamis sore (1/12). Acara memperingati Hari AIDS se-Dunia 1 Desember itu diprakarsai Korps HMI-wati (Kohati) bekerjasama dengan PMI Balikpapan.

Susi berbagi pengalaman bagaimana saat mengetahui dirinya terjangkit virus berbahaya itu, lalu menjalani kehidupannya dengan wajar. Susi merasa penyakit AIDS bukanlah akhir dari segalanya. Ini berkat motivasi Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang merangkul dan membantu para ODHA agar patuh pada obat dan mengatur dosis yang ditentukan.

Lia salah satu relawan mengatakan, KDS dibentuk memang untuk merangkul penderita HIV AIDS agar tak putus asa dan mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai manusia yang masih punya kesempatan melakukan hal-hal positif seperti yang lainnya, termasuk bersosialisasi.  “Kami membantu mengingatkan mereka untuk patuh pada obat meskipun tidak bisa menyembuhkan. Tetapi terapi ini berfungsi untuk menidurkan virus agar tidak berkembang dalam tubuh,” ujar Lia.

Menurut data yang diterima KDS, korban meninggal akibat HIV AIDS di Balikpapan sampai saat ini ada 6 orang dan jumlah yang terjangkit 400 orang lebih. Menurut ketua panitia Yuliana Rezki, sebagian masyarakat masih enggan bersosialisasi dengan ODHA, karena ada anggapan HIV penyakit menular mematikan. Padahal, menurut dr Maya Dravida Filayati dari Puskesmas Prapatan, penularan HIV hanya bisa melalui darah, berhubungan seks dan ASI.

Maya mengimbau agar masyarakat melakukan pencegahan secara dini, dengan menguji darah apakah terjangkit HIV atau tidak. “Caranya mudah. Datang ke Rumah Sakit atau Puskesmas yang mempunyai alat tes darah IMD dan VCT. Jika hasilnya positif terjangkit, maka akan ada konsultasi psikolog, kemudian dites kembali,” ujarnya. Sejauh ini banyak masyarakat yang sudah memeriksakan darahnya. “Tetapi ada juga yang enggan, meskipun hasilnya belum tentu positif,” ujarnya. (RARA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *